Senin, 02 Desember 2013

sejarah vietnam

BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Makalah ini dibuat untuk memberikan penjelasan dan pemenuhan tugas mata kuliah Asia Tenggara, didalam makalah ini akan dibahasa lebih dalam tentang Vietnam. Sebelumnya perlu diketahui bahwa pembagian sejarah Vietnam dibagi menjadi beberapa bagian yaitu masa Pra-dinasti, masa dinasti-dinasti, masa kolonialisme Perancis, perang Vietnam, pasca perang Vietnam, dan Đổi Mới. Tetapi, pembahasan yang diulas hanya sampai masa dinasti-dinasti saja sebelum kedatangan bangsa Perancis.
Bangsa Vietnam memiliki sejarah yang panjang dan keras sejak sebelum Masehi hingga akhir Perang Vietnam tahun 1975. Vietnam mencatat dalam kenangan perjalanan sejarahnya dominasi 1000 tahun oleh “Kerajaan Utara” untuk merujuk penguasaan Vietnam oleh Kekaisaran Cina dari Dinasti Han di utara yang bermula dari sekitar 200an tahun sebelum Masehi hingga tahun 939 Masehi. Dalam kurun waktu tersebut, Vietnam telah diduduki sebanyak tidak kurang dari empat kali, dan sebanyak itu pula bangsa Vietnam berhasil mengalahkan serbuan penjajah dari utara.
Pada masa dinasti-dinasti  ini pengaruh budaya Cina sudah merasuk pada kehidupan sosial budaya bangsa Vietnam, seperti nilai-nilai ajaran Konghucu, Taoisme. Bersamaan dengan itu juga berkembang kepercayaan Tam Giao (Tiga Agama), yaitu perpaduan dari Taoisme, kepercayaan masyarakat Cina dan animisme Vietnam. Hengkangnya dominasi Kerajaan Utara mendorong munculnya Kerajaan-Kerajaan lokal seperti Champa di selatan. Kerajaan Champa mulai terbentuk tahun 192 dan berakhir sekitar tahun 1700an seiring mulai masuknya desakan dari kekuatan-kekuatan luar. Di masa lalu, kerajaan tersebut telah menjalin hubungan erat dengan Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit di Nusantara.



1.2    Rumusan Masalah
1.    Bagaimana masa Pra-dinasti Vietnam itu berlangsung?
2.    Dinasti apa saja yang berjaya sebelum kedatangan bangsa Barat?
3.    Bagaimana proses perebutan Annam dan Tongking?

1.3    Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu untuk pemenuhan tugas kelompok mata kuliah Asia Tenggara tentang Vietnam sebelum kedatangan bangsa Barat. Serta isi makalah ini bertujuan untuk memberikan tambahan refrensi kepada mahasiswa atau pembaca lainnya tentang Vietnam sebelum kedatangan bangsa Barat.
Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah untuk memberikan wawasan atau tambahan informasi kepada para mahasiswa atau pembaca lainya tentang gambaran sejarah Vietnam terdahulu sebelum kedatangan bangsa Barat.

















BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Vietnam Kuno
A.    Letak Geografis
Bangsa Vietnam memiliki sejarah yang panjang dan keras sejak sebelum Masehi hingga akhir Perang Vietnam tahun 1975. Vietnam (Bahasa Vietnam: Việt Nam), bernama resmi Republik Sosialis Vietnam (Cộng Hòa Xã Hội Chủ Nghĩa Việt Nam) adalah negara paling timur di Semenanjung Indochina di Asia Tenggara. Vietnam berbatasan dengan Republik Rakyat Cina di sebelah utara, Laos di sebelah barat laut, Kamboja di sebelah barat daya dan di sebelah timur terbentang Laut China Selatan. Daerah ini kini dikenal sebagai Vietnam telah dihuni sejak zaman Paleolitik, dan beberapa situs arkeologi di Provinsi Thanh Hoa tanggal kembali konon beberapa ribu tahun. Arkeolog link awal peradaban Vietnam ke akhir Neolitik, Zaman Perunggu Awal, Phung Nguyen budaya, yang berpusat di Provinsi Vinh Phuc Vietnam kontemporer dari sekitar 2000-1400 SM.
Dengan sekitar 1200 SM, pengembangan budidaya sawah dan casting perunggu di Sungai Ma dan Sungai Merah dataran mengarah ke pengembangan budaya Anak Dong, terkenal dengan drum rumit yang perunggu. senjata perunggu itu, alat, dan drum situs Dong-Sonian menunjukkan pengaruh Asia Tenggara yang menunjukkan asal adat untuk teknologi perunggu-casting.
Banyak kecil, lokasi tambang tembaga kuno telah ditemukan di Vietnam utara. Beberapa kesamaan antara situs Dong-Sonian dan situs Asia Tenggara termasuk keberadaan peti mati berbentuk perahu dan stoples pemakaman, rumah-rumah panggung, dan bukti dari kebiasaan mengunyah sirih.
B.    Era dinasti
Hong legendaris Bang raja-raja Dinasti Hung dianggap oleh banyak orang Vietnam sebagai negara Vietnam pertama, yang dikenal sebagai Văn Lang. Pada 257 SM, raja terakhir Hung kalah Thục Phan, yang mengkonsolidasi Lac Việt suku dengan suku-suku itu Việt Au, membentuk Au Lac dan menyatakan diri Sebuah Vương Duong. Pada 207 SM, seorang jenderal Cina bernama Zhao Tuo dikalahkan Sebuah Vương Duong dan konsolidasi Au Lac ke Nanyue. Pada 111 SM, Dinasti Han Cina Nanyue konsolidasi ke dalam kerajaan mereka.
Untuk seribu tahun ke depan, Vietnam terutama di bawah pemerintahan Cina. Awal gerakan kemerdekaan seperti para Suster Trung dan Lady Triệu hanya sebentar berhasil. Itu independen sebagai Van Xuan bawah Dinasti Ly anterior antara 544 dan 602. Pada awal abad ke-10, Vietnam telah memperoleh otonomi, tetapi bukan kemerdekaan, di bawah keluarga Khúc.
Pada 938 CE, seorang bangsawan Vietnam bernama Ngo Quyền mengalahkan pasukan Cina di Bạch Đằng Sungai dan merebut kembali kemerdekaan setelah milenium di bawah kendali Cina. Mengubah nama sebagai Đại Việt (Great Viet), bangsa melewati era keemasan selama Ly dan Trần Dinasti. Selama pemerintahan Dinasti Trần, Đại Việt ditolak tiga invasi Mongol Buddhisme. Berkembang dan menjadi agama negara.
Setelah Dinasti Hồ singkat, kemerdekaan Vietnam sejenak disela oleh Dinasti Ming Cina, tapi dikembalikan oleh Le Loi, pendiri Dinasti LE. Vietnam mencapai puncaknya pada Dinasti Le pada abad ke-15, khususnya selama masa pemerintahan Kaisar Le Thanh Tong (1460-1497). Antara abad 11 dan 18, Vietnam selatan diperluas dalam proses yang dikenal sebagai Tien nam (selatan ekspansi), dan akhirnya menaklukkan Kerajaan Champa dan bagian dari kerajaan Khmer.
Menjelang akhir Dinasti Le, menelan banyak perselisihan sipil Vietnam. Pertama, Mac Cina-didukung Dinasti menantang kekuasaan Dinasti LE itu. Setelah Dinasti Mac dikalahkan, Dinasti LE itu diinstal ulang, tapi tanpa daya aktual. Kekuasaan dibagi antara para bangsawan Trinh di Utara dan Lords Nguyen di Selatan, yang terlibat dalam perang sipil selama lebih dari empat dekade. Selama waktu ini, Vietnam Nguyen diperluas ke selatan Delta Mekong, menganeksasi yang Champa di dataran tinggi pusat dan tanah Khmer di Mekong.
Perang saudara berakhir ketika dikalahkan saudara Tay Anak baik dan mendirikan dinasti baru mereka. Namun, aturan mereka tidak berlangsung lama dan mereka dikalahkan oleh sisa-sisa dari Lords Nguyen Anh dipimpin oleh Nguyễn dengan bantuan Perancis. Nguyen Anh Vietnam bersatu, dan mendirikan Dinasti Nguyen, memerintah dengan nama Gia Long.

2.2 Kerajaan Champa-Vietnam
Kerajaan Champa didirikan di Vietnam oleh orang-orang Cham yang secara etnis tidak mempunyai hubungan dengan orang-orang Vietnam. Ketika kerajaan Funan yang berada sebelah selatan Champa dipengaruhi oleh Cina, kerajaan Champa selama 1600 tahun juga mendapatkan pengaruh dari Cina.
Akibat dari hal itu, Champa harus mengimbangi kekuatan di antara dua negara tetangganya dalam hal jumlah penduduknya dan pola militer Vietnam di utara dan Khmer (Kamboja) di selatan. Seperti Funan, kerajaan Champa menerapkan kekuatan perdagangan pelayaran laut yang berlaku hanya di wilayah yang kecil.
Pertengahan abad VIII merupakan waktu yang kritis bagi Champa, seperti Kamboja, Champa harus bertahan atas sejumlah serangan dari Jawa. Tetapi bahaya Jawa segera berlalu pada awal abad IX karena Champa sendiri juga melakukan serangan-serangan. Dibawah Hariwarman I, Champa menyerang propinsi-propinsi Cina sebelah utara dengan mendapat kemenangan. Champa juga melakukan penyerangan ke Kamboja dibawah pimpinan Jayawarman II, yaitu pendiri dinasti Angkor. Serangan tersebut dibalas oleh Indrawarman II.
Di bawah Indrawarman II (854-893), didirikan ibu kota Indrapura di propinsi Quang Nam. Ia memperbaiki hubungan baik dengan Cina. Pemerintahannya merupakan pemerintahan yang damai, terutama dengan dengan dirikannya bangunan-bangunan besar Budha, sebuah tempat suci, yang reruntuhannya terdapat di Dong-duong, di sebelah tenggara Mison. Ini adalah bukti pertama adanya Budha Mahayana di Champa.
Indrawarman II mendirikan enam dinasti dalam sejarah Champa. Raja-rajanya lebih aktif daripada yang sebelumnya dalam perhatiannya pada kehidupan di negeri itu. Mereka bukan saja mendirikan tempat-tempat suci baru, tetapi juga melindungi bangunan-bangunan keagamaan itu dari para perampok dan memperbaikinya kembali jika rusak.
Selama pemerintahan pengganti Indrawarman, Jayasimhawarman I, hubungan dengan Jawa menjadi erat dan bersahabat. Seorang keluarga permaisurinya berziarah ke Jawa dan kembali dengan memegang jabatan tertinggi dengan sejumlah raja dibawahnya. Hubungan ini menjelaskan pengaruh Jawa pada kesenian Champa.
Selama abad X terjadi banyak peristiwa penting di Champa. Tahun 907 dinasti T’ang jatuh di Cina dan orang Annam mengambil kesempatan itu untuk maju dan mendirikan kerajaan Dai-co-viet (Annam dan Tong-King) tahun 939. Awalnya perubahan ini hanya berpengaruh sedikit pada Champa akan tetapi kemudian timbul keributan antara Champa dengan kerajaan-kerajaan baru itu. Kemudian Champa dikuasai dan mulai mencari pengakuan dari Cina. Tahun 988 terjadi pembalasan oleh Champa dibawah raja Vijaya (Binh-dinh). Setelah masa damai yang singkat, ia mendapat jaminan pengakuan dari Cina dan memperbaiki ibukota Indrapura.
Abad XI merupakan masa kehancuran Champa. Champa kehilangan propisinya karena direbut oleh Annam. Mereka mengirim misi ke Cina berturut-turut dan tahun 1030 bersekutu dengan Suryawarman I dari Angkor. Tahun 1044 Annam melakukan penyerangan besar-besaran terhadap Champa dan Champa mengalami kehancuran. Ibukota Vijaya direbut dan Raja Jayasimhawarman II dinaikan pangkatnya.
Dinasti VIII, didirikan oleh seorang pemimpin perang yang bergelar Parameswaraman I dan mulai menghidupkan kembali kerajaannya. Ia menekan pemberontakan di propinsi bagian selatan dan berusaha mengembangkan hubungan baik dengan kedua Annam dan Cina dengan sering-sering mengirim misi. Seorang pangeran bernama Thang mendirikan dinasti IX. Beliau mengambil gelar Hariwarman IV dan segera memperlihatkan kekuasaannya dengan memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh penyerangan dan membangkitkan kesejahteraan negerinya. Kebangkitan Champa sangat cepat, setelah berhasil mengusir Annam dari Champa, selanjutnya menghancurkan serangan Khmer dan membalasnya dengan mengirim pasukan penyerang memasuki Kamboja.
Politik Hariwarman IV memelihara hubungan yang lebih baik dengan Annam. Sejak itu dengan sedikit keraguan kemudian ia bersekutu dengan Cina dan merencanakan penyerangan terhadap Annam. Ketika gagal, ia bertang gungjawab melindungi dari kemarahan orang Annam dengan mengirimkan tawaran perdamaian yaitu dengan memberi upeti kepada Annam secara teratur.
Khmer juga mulai menyerang Champa, bagian utara Champa telah berada dibawah kekuasaan Khmer. Tetapi di bagian selatan Panduranga, seorang raja baru, Jaya Hariwarman I, bangkit tahun 1147. Kemudian setelah mendesak keluar pasukan Khmer, ia terus menyerang dan mengembalikan Wijaya dan menyatukan kembali kerajaan.
Kesulitan Jaya Hariwarman I belum teratasi, tahun 1155 Panduranga mulai memberontak. Tetapi ia dapat memperbaiki kembali kerusakan-kerusakan karena perang dengan menggunakan sebagian barang jarahannya untuk memperbaiki candi-candi dan membangun yang baru. Beliau juga mengirim utusan ke Cina dan menenangkan Annam dengan membayar upeti secara teratur.
Ketika Jaya Hariwarman I mangkat, ia digantikan oleh seorang avontutir yang cerdik bernama Jaya Indrawarman IV yang telah merebut tahta dari putera Jaya Hariwarman I. Kemauannya yang besar ialah membalas dendam dengan menyerang Kamboja yang telah menyerang Champa oleh Suryawarman. Akan tetapi penyerangan tersebut gagal. Setelah melakukan persiapan lama, Jayawarman VII, pendiri Angkor Thom, melancarkan serangan besar-besaran terhadap Champa. Sekali lagi Champa jatuh ke tangan Kamboja. Suryawarman memutuskan untuk bersekutu dengan Kamboja.
Kemudian Khmer menyerang Champa lagi, dan Champa dikuasai oleh Khmer selama 17 tahun. Karena beberapa alasan yang tidak disebut dalam catatan, pasukan Khmer meninggalkan negeri itu dan memberikan kendali pemerintahannya secara sukarela. Banyak yang berpendapat mengenai sebab pengunduran Khmer secara tiba-tiba tersebut. Kesimpulan Maspero oleh Coedes, adalah bahwa tekanan T’ai atas kerajaan besar Khmer telah sedemikian keras hingga Angkor dipaksa meninggalkan cita-citanya menjadikan Champa sebagai daerah taklukannya.
Kemengan-kemenangan Mongol di Cina juga dianggap sebagai penyebab berhentinya perang antara Annam dan Champa. Dalam hal Champa, masalahnya sampai pada puncaknya ketika tahun 1281, yaitu saat kesabaran Kublai Khan telah habis dan beliau mengirim marsekal “Sogatu” untuk mendesak pemerintahan Mongol di negeri itu.
Seorang raja baru, Jaya Simhawarman III didesak untuk bersekutu dengan Annam. Tahun 1301 ia menerima kunjungan dari Tran Naon-Ton, yang telah menyerahkan dengan senang hati tahtanya kepada puteranya Tran Anh Ton, dan pura-pura mencari kebajikan dengan berziarah keliling tempat suci di negeri-negeri tetangganya. Ia menjanjikan pada raja Champ salah seorang putrinya untuk dijadikan istri raja Cham.
Dalam pertalian perkawinan itu, ia terbujuk untuk menyerahkan dua buah propinsi Cham di utara Col des Nuages sebagai nilai tukar penyerahan seorang saudara perempuan Tra Anh-Ton. Kemudian ketika pemerintahannya digantikan oleh putranya Che-Chi, putranya harus menanggung perbuatan bodohnya itu. Tahun 1312, Annam menyerbu Champa, menurunkan Jaya Simbhawarman IV dari tahtanya dan menggantinya dengan adiknya. Cue Nang. Champa sekarang menjadi propinsi Annam yang rajanya diangkat sebagai “pangeran pembayar pajak kelas dua”. Tetapi Che Nang tetap setia kepada Champa dan tidak mau menyerahkan pada kekuasaan Annam. Ia memberontak dan berusaha mengembalikan dua propinsi yang telah diserahkan oleh ayahnya.
Che Anan ialah pendiri dinasti XII dalam sejarah Cham yang berkuasa sampai tahun 1390. Ini merupakan pembuka bagi kebangkitan Cham dengan mengambil manfaat atas berdirinya dinasti Ming di Cina. Dengan mulai serangkaian serangan-serangan yang sukses di Annam. Negeri itu tetap dalam keadaan teror terus menerus sampai tahun 1390, raja Cham terbunuh dalam perang di laut. Kemudian Champa kehilangan propinsi Indrapura (Quang Nam). Tahun 1441, pemerintahan Jaya Simhawarman V berakhir.
Di tahun 1471, tentara Vietnam Dinasti Le menaklukan kerajaan Champa. Sekitar 60.000 orang tentara Champa terbunuh, termasuk Raja Champa dan keluarganya dan sekitar 60.000 orang lainnya diculik untuk dijadikan budak. Kerajaan Champa diperkecil wilayahnya, yang sekarang dikenal dengan nama Nha Trang. Pada tahun 1720 terjadi serangan baru dari tentara Vietnam yang mengancam kerajaan Champa. Seluruh bangsa Cham beremigrasi ke arah barat daya, ke wilayah utara danau Tonle Sap yang sekarang merupakan Kamboja.
Dengan kejatuhan Vijaya pada 1471 maka keluasan Negara Champa semakin mengecil dan ibu negara Champa berpindah untuk kesekian kalinya. Kali ini jauh ke selatan ke Panduranga. Mengikut sejarah, semenjak perlantikan Po Tri Tri sebagai raja untuk keseluruh Champa dan dengan perpindahan beliau ke Panduranga untuk menubuhkan kerajaan yang baru, maka bermulalah perkembangan Islam secara besar-besaran di Champa. Bahasa Sanskrit yang selama ini menjadi bahasa rasmi Champa juga tidak digunakan lagi.
Semenjak era inilah Champa bertukar corak. Tidak pasti sama ada Champa terus menerus diperintah oleh raja Islam sehingga kejatuhannya ke Vietnam, akan tetapi berdasarkan kepada keunikan sistem pentadbiran yang diamalkan di Champa di mana terdapat berbagai kerajaan dalam satu wilayah pada masa yang sama, maka berkemungkinan bahwa ada raja-raja Islam yang memerintah Champa pada zaman tiga abad setelah kejatuhan Vijaya.
Keunikan sistem pemerintahan Champa adalah karena Champa terdiri dari persekutuan berbagai kaum yang dikenal majemuk sebagai ‘Urang Champa’. Selain kaum Cham sendiri, penduduknya juga terdiri dari berbagai kaum etnik daripada rumpun lain yang juga merupakan rumpun bahasa Austronesia yaitu puak bukit (hill tribes) yang terdiri daripada kaum-kaum Chru, Edê, Hroy, Jörai, Rhade (Koho), dan Raglai dan termasuk juga dari rumpun bahasa Austroasiatic seperti kaum Dera atau montanagards yang terdiri dari kaum-kaum Ma, Sré dan Stieng.
Meskipun terdapat raja, yang memerintah Champa secara keseluruhannya, terdapat juga raja-raja kecil misalnya Raja Bao Dai, yang menjadi raja untuk kaum etnik yang tertentu. Ini mempunyai persamaan dengan kaum Batak dan Mandiling di Indonesia, misalnya, yang mempunyai raja-raja mereka sendiri, tetapi semata-mata sebagai raja adat. Dalam mengkaji sejarah Champa mungkin pengkaji sejarah tidak memahami kedudukan raja pada kaum masing-masing dan hal ini telah menimbulkan kekeliruan di sebabkan dalam satu zaman yang sama akan terdapat rujukan kepada dua atau tiga raja yang berlainan nama. Dalam tradisi pemerintahan Champa, hanya raja yang mempunyai kekuatan tentara dan kekuasaan politik negara sebagai ‘Raja kepada Raja-raja (‘Rajatiraja’) Champa’ (“King of Kings of Champa”). Berdasarkan kepada manuskrip-manuskrip yang terdapat berkemungkinan besar setelah kejatuhan Vijaya, kekuasaan ini pernah dipegang oleh raja yang beragama Islam.
Kerajaan Champa merupakan kerajaan maritim sehingga pandai dalam pelayaran. Pelabuhan utama Champa ialah Phan Rang dan Nha Trang. Pelabuhan tersebut merupakan pemasok utama pendapatan kerajaan ini. Karena Quang Nam menawarkan pelabuhan yang lebih baik daripada pelabuhan yang lain, dimana kapal pedagang dari India, Sumatra, Jawa, dan Cina bisa mendapatkan persediaan air bersih di pelabuhan ini.

2.3 Annam dan Tongking
    Orang-orang Vietnam sebagaimana mereka sekarang lebih senang disebut begitu, yang merupakan rakyat terbesar di Semenanjung Indo-China. Mereka penghuni sungai-sungai Merah dan Hitam di Tongking, sepanjang pantai Annam dan daerah delta Mekong di Cochin-China. Pada permulaan tahun masehi, mereka menghuni Tongking bagian utara Annam saja. Mereka mendesak ke selatan demi orang-orang Cham yang kerajaannya mereka taklukkan pada abad XV. Di bawah pimpinan Nguyen dan Hue, distrik Cham yang terakhir masih merdeka diserbu selama abad XVII. Pada abad yang sama Vietnam mulai menanamkan koloni-koloni di daerah delta Mekong, di daerah kamboja sekarang, dan dari sejak waktu itu dan seterusnya penyusupan mereka yang kuat masuk Cochin-China terus berlangsung.
    Asal-usul mereka banyak diperdebatkan. Mereka diperkirakan merupakan hasil perkawinan campuran antara suku-suku setempat yang telah bermukim di Tongking dan orang-orang Mongoloid, yang mungkin merupakan migrasi ketiga zaman prasejarah yang sampai ke Indo-china. Dalam perjalanannya melalui lembah Yangtse dan yang sekarang merupakan propinsi-propinsi Cina, Chengkiang, Fukien, Kwang-tung, dan kwang-si. Bahasa mereka banyak pertalian dengan bahasa T’ai, tetapi berisi begitu banyak unsur-unsur Khmer-Mon hingga beberapa ahli teori telah mencoba menempatkanya dalam kelompok bahasa Khmer-Mon.
    Bukti arkeologi tertua, terutama dari lokasi Thanh-hoa dan Dong-sun, memperlihatkan kebudayaannya sebagai campuran Indonesia Mongol yang telah secara mendalam dipengaruhi oleh China. Kebudayaan cina telah tersebar meliputi daerah-daerah Cheking. Fukien, Kwang-tung, dan Kwang-si selama kurun waktu dari abad IX samapai IV sebelum masehi. Abad III sebelum masehi mulai mempengaruhi daerah yang sekarang adalah Tongking dan Annam. Di bawah Shih Huang Ti ( 246-209 ) “Kaisar pertama” dinasti Ch’in, Jendral Chao-t’a menaklukan kedua Kwang itu dan menganeksasikan pada cina. Penduduknya waktu itu non Cina. Mereka ada hubunganya dengan orang-orang T’ai dan Annam. Komisasi Cina di daerah itu mulai dari tahun sekitar 214 sebelum masehi. Tongking dan bagian utara sementara tetap di luar kekaisaran Cina. Ketika Dinasti Ch’in kawatir akan jatuhnya Jendral Chao-T’o tahun 208 S.M, menyatukan dengan kedua Kwang itu untuk membantu kerajaan merdeka Nan-yue atau Nam-viet menurut bentuk ata bahasa Annam. Bagian Annam yang dipengaruhi terdiri dari tiga Propinsi, Thanh-hoa, Quang-tri, dan Quang-binh. Dinasti Han mengakui Nan-yue sebagai kerajaan otonom, yang kedaulatannya atas daerah itu terbatas pada Kwang-tung dan Kwang-si, dengan membiarkan Tongking dan Annam bagian utara diperintah oleh pribumi.
    Tetapi tahun 111 S.M, kaisar Wang-ti (140-87 SM) pencipta imperialisme Cina di asia, menganeksir kerajaan Canton dan dengan Tong-king dan Annam, yang waktu itu bernama Nam-viet. Dan kemudian daerah ini di bagi ke dalam wilayah komando Chiao Chin (Tongking) Chin-chen (Thanh-hoa) dan Jenna (Annam Utara). Dari sejak waktu itu dan seterusnya sampai tahun 939 masehi Nam-viet tetap menjadi bagian integral kekaisaran Cina. Pertama-tama rakyat dibolehkan tetapi tahun 40 masehi sebagai komsekuensi dan suatu pemberontakan, pemerintahan dan lembaga-lembaga Cina didesakkan.
    Antara tahun 514 dan 602 Nam-viet melakukan tiga kali usaha besar untuk mendapatkan kembali kemerdekaannya. Yang pertama gerakan menentang tirani gubenur Cina, Siao-Tseu. Pada mulanya berhasil baik dan tahun 544 pemimpinya Li Bon memproklamasikan dirinya sendiri sebagai raja Nam-viet. Tetapi tahun 547 dia dikalahkan dan gerkannya hancur. Kedua, yang terdiri tahun 590, suatu usaha memanfaatkan situasi di Cina waktu Dinasti Ch’en jatuh. Ketiga, yang mulai tahun 600 dipimpin oleh seseorang anggota lain keluarga Li, Li-phat-tu, dan telah ditindas tahun 602 oleh Jendral Lieu-Fang, yang berturut-turut berusaha menghancurkan raja Cham, Sambhuwarman, karena mengambil wilayah komando Jenn.
    Selama masa pemerintahan Cina yang panjang, meskipun nampak tekanan kebudayaan Cina perlahan-lahan mendalam, termasuk tekanan pengenalan seni klasik Cina, sistem etika Confusius dan Budha Mahayana, Nam-viet tetap teguh setia pada tradisi nasionalnya. Kebuayaan Cina tentu saja bagi kelompok kecil yak melek huruf; rakyat secara keseluruhan mempertahankan bahasanya, adat dan kesenian kuno dengan pangkal animisme dan pemujaan leluhur. Dari abad III sampai X sejumlah missi melintas antara negeri Cina bertemu Tongking dan memperkenalkan sejumlah kebudayaan India tertentu, tetapi anya sedikit pengaruhnya. I-tsing menulis bahwa waktu itu negeri menjadi pusat intlektual besar aliran Buddha tempat banyak dibuat terjemah dari naskah-naskah yang dibawa dari Sriwijaya. Ini dimulai dengan karya-karya peziarah Cina dan Annam.
    Pengaruh Cina diperkuat leh pertahananya yang berhasil kemunduran dinasti T’ang kekuasaanya mulai melemah. Negeri tu menghandarkan Cnampa tahun 780 untuk mendapatkan kekuasaan atas Hue, Quang-Tri dan Quang-binh, garis pantai dari Col des Nuages sampai poret D’Annam. Tahun 862 Tongking diserbu oleh T’aidari Nanchao dan dalam tahun berikut Hanoi dirampas. Ketika tahun 907 T’ang jatuh dan kekacauan pemerintah di Cina, orang-orang Annam mendapat kesempatan melakukan usaha kmerdekaan. Kali ini mereka berhasil baik, dan tahun 939 pemimpinanya Ngo-Quyen mendirikan dinasti nasional Ngo (939-938).
    Sarjana-sarjana Perancis membedakan 15 dinasti sepanjang seluruh kurun waktu sejarah Annam. Emat diantaranya berkuasa singkat sebelum tahun 939 selama selingan-selingan dalam daerah kekuasaan Cina. Tiga yang pertama setelah tahun 939 mempunyai karya yang sangat singkat, jumlahnya semua hanya 8 raja dan meliputi kurun waktu sampai 1009. Dengan satu kekecualian, yang terakhir-akhir ini karyanya lama, masing-masing memberi warna perkembangan yang berbeda dalam Sejarah negeri itu. Pada mulanya kerajaan meredaka meliputi hanya Tongking dan tiga propinsi Annam Utara, yaitu Tnanh-hoa, Nghe-en dan Hantinh. Di selatan in kerajaan Champa mengadakan perluasaan.
       
Dinasti Ngo tidak mampu menguasai pemimpin-pemimpin setempat dan tidak pernah mendapat pengakuan dari Cina. Dinasti Dinh (968-967) bahkan lebih pendek dari hidupnya. Dinasti Li yang mula-mula (978-1009) mulai berkembang. Rajanya yang pertama, Le Hoan menyerang Champa tahun 982, membunuh rajanya, merampas ibu kotanya, india pura, dan kembali dengan banyk orang rampasan. Tetapi penggantinya diturunkan dari tahta tahun 1009 membuka jalan bagi dinasti Li yang berlangsung selama lebih dari abad. Antara 968 dn 1009 perkembangan penting dalam alam keagamaan terjadi. Tien-hoang dari dinasti Dinh mendirikan organisasi keagamaan resmi dengan memadukan Buddhisme dalam hierarki pemeintahan. Raja Le yang kedua memasukkan naskah-naskah klasik Buddha Mahayana dari Cina dan berusaha menghimpau rakyatnya untuk menerima Buddhisme menggantikan pemujaan asli yang terus melanjut ada sekuat sebelumnya. Tetapi cendekiawan-cendekiawan tetap pada Taoisme confuanisme sebagian besar.
Dinasti Li (1009-1225) mulai perjuangan yang lama untuk mendapatkan kembali propinsi Annam itu dari Cnampa, yang dilihat dari sudut budaya merupakan perang antara pengaruh Cham meninggalkan propinsi sebelah utara. Setelah Indrapura dirampas Le-Hoanthun 982 Cnam memindahkan ibu kotanya lebih keselatan vijaya (Bhin-Dhinn). Tetapi tahun 1044 Vijaya dirampas kepalanya. Terjadi untuk keduanya kalinya tahun 106 Rajanya, Rudrawarman III telah diburu masuk kedaerah Kamboja dan ditawan. Kemudian, sesudahan upacara pesta besar diadakan oleh Thanh-tonh di ibu kota yang baru direbutnya, beliau dan keluarganya dikirim di Annam. Dalam tahun berikut beliau mencapai kemudahan dengan penyerahan resmi 3 propinsi bagian utara kepada Annam.
Cham berusaha keras mendapatkan kembali propinsi-propinsi yang lepas, tetapi pada abad XII serangaan dilancarakan oleh ahli perang besar Kamboja. Suryawarman II meembuatnya tak berdaya selama perang mereka dengan Annam. Perang Kamboja yang berakhir tahun 1220 mengakibatkan tiga propinsi bagian utara itu secara kuat di tangan Kamboja.
Tahun 1225 dinasti Li digantikan Than. Kemudian Champa berlahan-lahan bangun kembali setelah lama bertarung kepada Kamboja. Tetapi tiga propinsi yang hilang itu tetap menjadi tulang punggung persaingan abadi, dan pertengahan abad XIII perang tanding memperlihatkan tanda-tanda di mulainya lagi. Tetapi kali ini sukar majunya ketika perdamain dipaksakan oleh ancaman Mongol terhadap kedua belah pihak. Tahun 1257 sepasukan Mongol merampas Hanoi (Tnaanh-long), tetapi ipaksa kembali oleh perlawanan Annam yang sedang bertambah kuat. Kublai Khan yang jadi Kaisar tahun 1260 mengirim utusan kesemua negeri di Semennjung Indo-cina menuntut tanda setia. Bahaya itu menyebabkan Champa mencoba suatu hubungan persahabatan dengan Annam, tetapi tidak ada hasilnya. Namun demian ketika Masekal Sogatu dikirim oleh Kublai Khan tahun 1281 untuk mendesak kekuasaan Mongol di Champa. Annam berasa di paksa berkelahi sebagai sekutu Cham, untuk berusaha keras mengatasi perlawanan Cham yang sangat berguna, Kublai Khan mencoba mengirim pasukan melalui daratan Annam dan Annam menyadari kemerdekannya berada di ujung tanduk, lalu melawanya. Tahun1285 pasukan Mongol menyerang Hangoi lewat Lang-Song dan Bac-Ninh. Dan sekali lagi perlawanan Annam sangat kuat hingga mereka harus mundur. Pasukan Mongol yang lain dipimpin putra Kublai, Togan, telah dikalahkan ketika mencoba masuk ke Tongking dari utara dan masekal “Sogatu” dalam usaha membantunya dikalahkan dan dibunuh oleh Cham. Tahun 1287 Hanoi diduduki oleh Mongol yang ketiga kalinya, tetapi lagi-lagi Annam memaksanya untuk mengosongkan negeri itu, dan tran nh’on-ton (1278-1293) memasuki lagi ibukotanya dengan kejayaan.
Bersma-sama Champa dan Annam telah berhasil mengusir semua usaha Mongol untuk menaklukanya. Untuk memperkuat persaudaraan yang telah dicapai, raja Champa menghimbau untk minta seoarang putri Annam sebagai permaisurinya. Ketika tahun 1306, Tran-Ann-Thon setuju mempersembahkan saudara perempuanya kepada raja Cham, harga yang diminta dan diterima dengan cukup menghernkan, adalah penyerahan kepada Annam propinsi-propinsi Kun-tri dan Tnu’a-thien (hue). Tetpi jaya simhwarman segera meninggal setelah perkwaninan itu dan Cham segera mulai mendapatkan kemabali propinsi itu.
Tahun 1326, sesudah beberapa pemberontakan dan datang ke Cinna Champa mendapatkan kembali kebebasanya dan tahun 1324 komando Cina memperintahkan Annam menghormati Champa. Tahun 1353 Champa berusaha mendapatkan kembali daerah we tetapi gagal. Kemudia Che bong nga (1360-1390) pahlawan Cham, memulai serangkaian peperangan ia membuat Annam kacau selama pemerintahanya. Tahun 1377 Tran due-ton melancarkan serangan balasan dan siap-siap masuk, dengan seluruh pasukanya Che bong nga menduduki kembali daerah-daerah yang belum diambilnya dari Champa oleh musuhnya. Tetapi segera setalah itu beliau mangkat, Annam mendapatkan kembali semua daerah yang pernah hilang, untuk supaya lebih baik dapat melangsungkan usaha mereka menyempurnakan penaklukan Champa, memidahkan ibu kotanya keselatan dari Hanoi ke Thanh-goa.
Kemudian kemajuanya berhenti tiba-tiba dan dengan tidak diharapkan Tahun 1400 seorang jendral bernama Li-Qui-Li mendesak raja Trant dan merebut tahtanya. Tetapi sebagai mana umumnya rakyat yan tidak puas mencari pemimpin diantara kepala-kepala suku Thanh-hoa, bernama Le lo’i, yang tahun 1414 bergerilya melawan Cina dengan hasil yang sukses. Le lo’i kemudian mempromakirkan dirinya sebagi raja Annam dan menjadi pendiri dinasti Le kedua.
Cham mengambil keuntungan dari keributan di Annm untuk mendapatkan kembali propinsinya yang lepas. Pada tahap pertama dinati baru Annam mempertahankan hubungan-hubungan damai dengan tetagganya diselatan, tetapi tahun 1441 serangaian serangan baru Champ dimulai. Tahun 1446 Annam, mengambil keuntungan, dari perang saudara di Champa.
Kemerdekaan politik yang digerakkan oleh Le Lo’i dari Ming membuktikan menjadi kenyataan dan berlangsung lama. Le than –Ton membagi kekaisaranya ke dalam 13 wilayah dan memberi sistem pemerintaan yang kuat yang dipertahankan sampai lama sesudah zaman beliau. Tetapi pengganti-penganti beliau adalah orang-orang Annam. Antara tahun 1497-1527 tidak kurang dari 10 orang raja naik tahta, empat diantaranya perebut mahkota. Istana menjadi pusat komplotan atas bangsawan-bangsawan feodal praktis dan lenyap.
Tetapi tahun 1533 melalui keluarga Nguyen yang sangat kuat Dinasti Le di pulihkan. Nguyen Kim mengusir Mac keluar dari propinsi-propinsi Annam Nghe-An dan Tan-hoa tetapi ketika beliu membuat perkembangan untuk menaklukan Tongking, tahun 1545 beliau terbunuh. Dan putera-puteranya masih terlalu muda untuk mengambil alih tugas karena itu Mac tetap menguwasi Tongking, dan Cina di minta ke dua belah pihak, menguasai propinsi-propinsi untuk memerintah bagian-bagian yang diduduki sebagai warisan keunggulanya di bawah kedaulatanya. Dinasti Mac memerintah Tongking sampai 1592. Maka kekuasaan sebenarnya ditangani oleh pengganti-pengganti Nguyen Kim sebagai pejabat-pejabat istana. Penggantinya adalah anak tirinya yang mampu, Trinh Kiem, yang mangkat pada tahun 1570.
Ketika kedua putra Nguyen dewasa perselisihan berkembang diantara mereka. Trinh kim mendalami pembunuhan yang lebih tua, tetapi adiknya Nguyen hoang, luput dari kematian dengan pura-pura gila dan trinh kim mengirimnya untuk memerintah propinsi-pripinsi bagian selatan yang dulu pernah menjadi milik Cham.
Tahun 1570, ketika Trin khm mangkat, daerah kekuasaan Annam dibagi antara tiga kekuasaan. Mac menguasai Thongking, dengan ibu kotanya di hanoi Trimh sebagai pejabat istana selama kedaulatan le, memerintah Thanh-hoa, Ng-an dan H-Thinh, dengan Tay-do sebagai ibu kotanya. Nguyen juga bertindak atas nama Le memerintah propinsi quang-tri sebagai pusatnya. Tahun 1952 Trinh-tong pengganti Trinh king, merebut hanoi dan berhasil menguasainya sebagai kawasan Tongking. Mac lari ke cao-bang diperbatasan Cina, tempat mereka bertahan atas bantuan pecking, sampai tahun 1677.
Dari waktu ke waktu Nguyen hoang muncul di istana. Ia mengharap bahwa kesempatan baik akan timbul baginya untuk mendapatkan kembali propinsi yang dipegang ayahnya. Tetapi menjelang itu jelas bahwa kekuatan trinh terlalu kuat untuk digulingkan. Karena itu tahun 1600 ketika terjadi pemberontakan dan Nguyen hoang pergi melawanya, ia memelihara terus hubungan dengan istana Hanoi. Dari sejak itu dan seterusnya persaingan msing-masing mulai mempersiapkan perang yang tidak dapat dihindarkan yang pecah tahun 1620.

KESIMPULAN
Bangsa Vietnam memiliki sejarah yang panjang dan keras sejak sebelum Masehi hingga akhir Perang Vietnam tahun 1975. Vietnam mencatat dalam kenangan perjalanan sejarahnya dominasi 1000 tahun oleh “Kerajaan Utara” untuk merujuk penguasaan Vietnam oleh Kekaisaran Cina dari Dinasti Han di utara yang bermula dari sekitar 200an tahun sebelum Masehi hingga tahun 939 Masehi.
Kerajaan Champa didirikan di Vietnam oleh orang-orang Cham yang secara etnis tidak mempunyai hubungan dengan orang-orang Vietnam. Ketika kerajaan Funan yang berada sebelah selatan Champa dipengaruhi oleh Cina, kerajaan Champa selama 1600 tahun juga mendapatkan pengaruh dari Cina.
Akibat dari hal itu, Champa harus mengimbangi kekuatan di antara dua negara tetangganya dalam hal jumlah penduduknya dan pola militer Vietnam di utara dan Khmer (Kamboja) di selatan. Seperti Funan, kerajaan Champa menerapkan kekuatan perdagangan pelayaran laut yang berlaku hanya di wilayah yang kecil.
Orang-orang Vietnam sebagaimana mereka sekarang lebih senang disebut begitu, yang merupakan rakyat terbesar di Semenanjung Indo-China. Mereka penghuni sungai-sungai Merah dan Hitam di Tongking, sepanjang pantai Annam dan daerah delta Mekong di Cochin-China. Pada permulaan tahun masehi, mereka menghuni Tongking bagian utara Annam saja. Mereka mendesak ke selatan demi orang-orang Cham yang kerajaannya mereka taklukkan pada abad XV. Di bawah pimpinan Nguyen dan Hue, distrik Cham yang terakhir masih merdeka diserbu selama abad XVII. Pada abad yang sama Vietnam mulai menanamkan koloni-koloni di daerah delta Mekong, di daerah kamboja sekarang, dan dari sejak waktu itu dan seterusnya penyusupan mereka yang kuat masuk Cochin-China terus berlangsung.

Pada masa dinasti-dinasti  ini pengaruh budaya Cina sudah merasuk pada kehidupan sosial budaya bangsa Vietnam, seperti nilai-nilai ajaran Konghucu, Taoisme. Bersamaan dengan itu juga berkembang kepercayaan Tam Giao (Tiga Agama), yaitu perpaduan dari Taoisme, kepercayaan masyarakat Cina dan animisme Vietnam. Hengkangnya dominasi Kerajaan Utara mendorong munculnya Kerajaan-Kerajaan lokal seperti Champa di selatan. Kerajaan Champa mulai terbentuk tahun 192 dan berakhir sekitar tahun 1700an seiring mulai masuknya desakan dari kekuatan-kekuatan luar. Di masa lalu, kerajaan tersebut telah menjalin hubungan erat dengan Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit di Nusantara.
DAFTAR PUSTAKA

D.G.E.HALL,2004,Sejarah Asia Tenggara, Surabaya, Usaha Nasional
Groslier Bernard Philippe, 2002, IndoCina persilangan kebudayaan, Jakarta/paris,KPG
http://sejarawan.wordpress.com/2007/10/05/kerajaan-champa/.
http://kisah-grup.blogspot.com/2011/05/sejarah-vietnam.html?m=1

sejarah thailand

Kata Pengantar

Alhamdulillahirobbil’alamin ungkapan puja dan puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena atas limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga kami sebagai penyusun dapat menyelesaikan makalah tentang "Sejarah Thailand" ini dengan tepat waktu. Penulisan makalah ini kami gunakan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Sejarah Asia Tenggara I.
Terima kasih kami sampaikan kepada Drs. Sumarjono, M.Si. selaku dosen pembimbing Mata Kuliah Sejarah Asia Tenggara I. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman, yang telah banyak membantu dan memberikan motivasi kepada kami dalam pembuatan makalah ini.
Dalam pembuatan makalah yang berisikan tentang “Sejarah Asia Tenggara” ini masih banyak terjadi kesalahan dan kekurangan, sehingga kami selaku penulis membutuhkan kritik dan saran dari pembaca yang nantinya akan digunakan sebagai perbaikan makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca.





Jember, Oktober 2013



Penulis




Daftar lsi

Kata Pengantar      1
Daftar Isi      2
BAB  I  PENDAHULUAN 
     1.1     Latar Belakang      3
     1.2     Rumusan Masalah      4
     1.3     Tujuan      4
BAB  II  PEMBAHASAN
     2.1     Letak Geografis Thailand      5
     2.2     Sejarah dan Kondisi Thailand pada Masa Kerajaan  Tertua di Thailand    6
 BAB  III  PENUTUP
     3.1 Kesimpulan    14
Daftar Pustaka    15
   

 BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Secara geografis, Asia Tenggara merupakan tempat pertemuan bangsa-bangsa di dunia yang menjadi lalu lintas Internasional. Asia Tenggara terdiri dari sebelas wilayah negara diantaranya: Burma, Vietnam, Laos, Kamboja, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Brunai Barussalam, Timor- Timur (Timor Leste), dan Thailand. Thailand adalah sebuah negara di Asia Tenggara yang berbatasan dengan Laos dan Kamboja di timur, Malaysia dan Teluk Siam di selatan, dan Myanmar dan Laut Andaman di barat.
Negara Thailand dahulunya dikenali sebagai Siam sampai tanggal 11 Mei 1949. Populasi Thailand didominasi etnis T’ai dan Lao yang berjumlah kurag lebihnya tiga per empat dari seluruh penduduk. Etnis lainnya termasuk etnis Melayu di selatan, Mon, Khmer dan berbagai suku orang bukit. Selain itu juga terdapat komunitas besar etnis Tionghoa yang secara sejarah memegang peranan besar dalam Sejarah Thailand. Sebagian besar penduduk Thailand adalah pemeluk agama Budha aliran Therawada, namun ada minoritas kecil pemeluk agama Islam, Kristen dan Hindu.
Awal mula Thailand ini dikaitkan dengan sebuah kerajaan yang berumur pendek, Kerajaan Sukhot’ai yang didirikan pada tahun 1238. Kerajaan ini kemudian diteruskan oleh kerajaan Ayut’ia yang didirikan pada pertengahan abad ke-14 dan berukuran lebih besar dibandingkan Sukhot’ai. Kebudayaan Thailand dipengaruhi dengan kuat oleh Tiongkok dan India. Hubungan dengan beberapa negara besar Eropa dimulai pada abad ke-16 namun mengalami tekanan yang kuat, Thailand tetap bertahan sebagai satu-satunya negara yang tidak pernah dijajah oleh bangsa-bangsa Eropa.



    1.2  Rumusan Masalah

1.    Bagaimana letak geografis Thailand?
2.    Bagaimana sejarah dan kondisi Thailand pada masa kerajaan-kerajaan tertua di Thailand?
    1.3  Tujuan

1.    Ingin mengetahui letak geografis Thailand.
2.    Ingin mengkaji Sejarah dan kondisi Thailand pada masa kerajaan-kerajaan tertua di Thailand.




BAB II
PEMBAHASAN
2.1    Letak Goegrafis Thailand
Kerajaan Thai merupakan tempat terletaknya beberapa wilayah geografis yang berbeda. Di sebelah utara, keadaannya bergunung-gunung, dan titik tertingginya berada di Doi Inthanon (2.576 m). Sebelah timur laut terdiri dari Hamparan Khorat, yang dibatasi di timur oleh sungai Mekong. Wilayah tengah negara didominasi lembah sungai Chao Phraya yang hampir seluruhnya datar, dan mengalir ke Teluk Thailand. Di sebelah selatan terdapat Tanah Genting Kra yang melebar ke Semenanjung Melayu.
Cuaca setempat adalah tropis dan bercirikan monsun. Ada monsun hujan, hangat dan berawan dari sebelah barat daya antara pertengahan Mei dan September, serta monsun yang kering dan sejuk dari sebelah timur laut dari November hingga pertengahan Maret. Tanah genting di sebelah selatan selalu panas dan lembap. Kota-kota besar selain ibu kota Bangkok termasuk Nakhon Ratchasima, Nakhon Sawan, Chiang Mai, dan Songkhla.
    Kerajaan Thai berbatasan dengan Laos dan Myanmar di sebelah utara, dengan Malaysia dan Teluk Siam di selatan, dengan Myanmar dan Laut Timur di barat dan dengan Laos dan Kamboja di timur. Koordinat geografisnya adalah 5°-21° LU dan 97°-106° BT.
Pada awalnya Thailand secara tradisional dikaitkan dengan sebuah kerajaan yang berumur pendek, Kerajaan Sukhothai yang didirikan pada tahun 1238. Kerajaan ini kemudian diteruskan Kerajaan Ayut’ia yang didirikan pada pertengahan abad ke-14 dan berukuran lebih besar dibandingkan Sukhothai. Kerajaan Sukhot’ai sendiri merupakan salah satu kerajaan tertua di Thailand yang berpusat di sekitar kota Sukhothai.             Kebudayaan Thailand dipengaruhi dengan kuat oleh Tiongkok dan India. Hubungan dengan beberapa negara besar Eropa dimulai pada abad ke-16 namun meskipun mengalami tekanan yang kuat, Thailand tetap bertahan sebagai satu-satunya negara di Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah oleh negara Eropa, meski pengaruh Barat, termasuk ancaman kekerasan, mengakibatkan berbagai perubahan pada abad ke-19 dan diberikannya banyak kelonggaran bagi pedagang-pedagang Britania..
Penduduk Siam adalah bangsa T’ai, yang merupakan satu keturunan dengan bangsa Shan di Burma Utara dan bangsa Laotian di Laos. Mereka diperkirakan muncul dalam abad VI sebelum Masehi (Hall, 1988:151). Nenek moyang mereka diperkirakan dari Cina selatan yang mengadakan migrasi ke Asia Tenggara akibat tekanan bangsa Mongol.
Eratnya hubungan budaya antara T’ai dengan Cina tampak sekali pada bentuk fisik mereka yang termasuk ke dalam kelompok ras Mongolia. Namun, di beberapa wilayah T’ai percampuran dengan penduduk asli membuat sebagian orang T’ai berkulit agak kehitaman. Penduduk T’ai yang dianggap berdarah murni warna kulitnya kuning dengan bentuk mata yang agak sipit, sama dengan kebanyakan bentuk fisik orang-orang Cina (Mangandaralam, 1988:15).






2.2    Sejarah dan kondisi Thailand pada masa kerajaan-kerajaan tertua di Thailand.
Kerajaan Bangsa T’ai dan kerajaan-kerajaan kecil lainnya seperti P’yao merupakan wilayah yang berada dalam kedaulatan Cina. Lambat laun negara-negara kecil tersebut ingin melepaskan diri dari kekuasaan Cina dan menjadi negara merdeka. Mereka melakukan migrasi dan penaklukan-penaklukan salah satunya adalah ibukota Pyu tahun 832 hingga daerah delta Irrawaddy. Mereka kemudian Lembah Menam dan lembah Salween dan Mekong. Selanjutnya di utara Raheng di pertemuan sungai Meping dan Mewang muncul negara merdeka T’ai dan P’ayao awal tahun 1096. Adapun kerajaan-kerajaan tertua yang ada di Muang Thai (Thailand) diantaranya:
1.    Kerajaan Sukhot’ai
Tahun 1238 seorang kepala suku Tai, Sri Intraditya, menyatakan kemerdekaannya dari tuan Khmer dan mendirikan kerajaan di Sukhothai di Chao Phraya Lembah di pusat Thailand. Orang-orang dari dataran pusat mengambil nama Thai, yang berarti "bebas," untuk membedakan diri dari orang lain Tai masih di bawah kekuasaan asing. Kerajaan Sukhothai menaklukkan Tanah Genting Kra pada abad ketiga belas dan dibiayai sendiri dengan jarahan perang dan upeti dari negara bawahan di Burma (sekarang Myanmar), Laos, dan Semenanjung Melayu.
Sebelum kedatangan Bangsa T’ai, Sukhot’ai merupakan ibukota kerajaan Angkor bagian barat laut. Menjelang ahir pemerintahan Jayawarman VII kerajaan bangsa Khmer ini menjadi lemah akibat sering terjadinya pemberontakan vasal-vasal kerajaan Angkor dan terjadinya perebutan tahta kerajaan Angkor. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh bangsa T’ai untuk menyerang dan menundukkan kekuasaan (gubernur) khmer di Sukhot’ai. Di bekas kerajaan Angkor inilah bangsa T’ai mendirikan pusat kerajaan Sukhot’ai yang nantinya mencapai kejayaan pada masa pemerintahan Rama Kamhaeng yaitu tahun 1283 hingga kira-kira tahun 1317 (Hall, 1988:152-153).
Terkait dengan peradaban kerajaan bangsa Sukhot’ai tersebut George Coedes menjelaskan sebagai berikut: Secara Geografis wilayah kekuasaan kerajaan Sukhot’ai pada masa pemerintahan Rama Kamhaeng meliputi daerah-daerah:sebelah timur dibatasi oleh Vien Chang (kini daerah Vientiane) sebelah selatan berbatasan dengan Ligor sampai ke laut, barat berbatasan dengan Pegu sampai ke laut, utara berbatasan dengan Luang Prabang (laos).
Kerajaan Sukhot’ai juga mendapat pengaruh sistem politik, kebudayaan alphabet dan sejumlah istilah dari bahasa Kamboja. Seniman-seniman Siam pun terpengaruh seniman-seniman Khmer, dan mentransformasikan kesenian Khmer sesuai dengan kesenian yang mereka miliki dan kesemuanya dipengaruhi oleh hubungannya dengan tetangga bagian barat yaitu Mon dan Burma. Bangsa Siam menerima tradisi dan hukum serta ajaran Budha Terawada dan kesenian India dari bangsa Mon Khmer. Kerajaan Sukhot’ai terletak diantara lingkungan pengaruh bangsa Mon, khmer dan Burma diserap ke dalam peradaban Siam.
Sebagian besar rakyat Sukhot’ai terdiri dari bangsa Mon dan Kmhmer dan dari merekalah Rama Kamhaeng menerima tulisan yang beliau pakai untuk memindahkan bahasa T’ai ke dalam tulisan (alphabet). Pemindahan Bahasa T’ai ke dalam tulisan ini terjadi tahun 1823. Alpabet baru tersebut yang kemudian lebih terkenal sebagai alphabet Sukodaya pertama kali digunakan Rama Kamhaeng pada sebuah prasastinya yang dibuat tahun 1292, sehingga prasasti tersebut dapat dikatakan sebagai sumber sejarah tertua yang ditulis dalam bahasa T’ai. Alpabet Sukodaya ciptaan Rama Kamhaeng selain dapat diterima oleh rakyat Siam ternyata berpengaruh juga terhadap perkembangan tulisan-tulisan di berbagai daerah Laos. Corak kebudayaan Sukhot’ai dapat dikatakan sebagai kebudayaan hasil akulturasi dari bentuk unsur-unsur kebudayaan bangsa Mon, Khmer, Burma dan ditambah kebudayaan Siam.
Selain pemakaian alphabet Sukodaya dalam prasasti Rama Kamhaeng yang dibuat tahun 1292, dalam prasasti ini juga diceritakan mengenai penaklukan terhadap daerah-daerah musuh diantaranya, kearah timur beliau menaklukkan negara sampai Sarakiang (P’ichit), Song Kwe (P’isnulok), Lum (Lomsak), Bacha, Sakha sampai ke pinggir-pinggir Mekong seta perbatasan Vien Chan dan Vieng Kham. Kearah selatan beliau telah menaklukkan daerah sampai ke Khiont’i, Prek (Paknam P’o) Sup’an-naphum, Ratburi, P’echaburi, sampai perbatasan Si Thammarat (Ligor). Kearah barat beliau telah menaklukkan negeri sampai ke Muong Chot, Hangsavati (Pegu). Kearah utara beliau melakukan penaklukan ke daerah Muong P’le (P’re), Muong Man, Muong P’lua (di sungai Nan) dan di bagian lain Mekong sampai Muong Chava (Luang Prabang).

Kunci Politik yang diterapkan Rama Kamhaeng dalam memerintah Sukhot’ai adalah memelihara hubungan baik dengan Cina dengan mengirimkan misi-misi ke Cina. Bahkan Rama Kamhaeng sendiri pernah beberapa kali berkunjung sendiri ke Cina. Diceritakan bahwa sepulang dari Cina Rama Kamhaeng membawa pekerja-pekerja Cina, yang membangun produksi barang-barang keramik di Sukhot’ai dan Savankhalok. Industri tersebut terus ada samapi pertengahan abad XVIII (Hall,1988:156). Politik luar negeri Rama Kamhaeng inilah yang mendukung terciptanya kondisi damai, sehingga memungkinkan tumbuh berkembangnya Kebudayaan Siam. Mengenai ahir pemerintahan dan akhir hidup Rama Kamhaeng tidak banyak diketahui, diberitakan bahwa Rama Kamhaeng hilang dalam aliran sungai di Savankhalok tahun 1318 (Hall, 1988:156).
Selama Rama Kamhaeng meninggal kerajaan Sukhot’ai menjadi lemah, berbagai kerajaan bawahannya mulai melepaskan diri. Hal ini disebabkan raja-raja pengganti Rama Kamhaeng lebih mengutamakan segi keagamaan. Salah satu diantaranya adalah putra Rama Kamhaeng yaitu Lo T’ai (1317-1447). Pada awal pemerintahannya ia meluaskan kekuasaannnya ke Tenaserim yang sejak abad ke XI menjadi daerah kekuasaan Burma. Lo T’ai adalah raja terpelajar, tetapi pemerintahannya buruk karena ia lebih mementingkan segi keagamaan, akibatnya kerajaan Sukhot’ai merosot dengan cepat. Lo T’ai meninggalkan istana dan masuk wihara. Dalam salah satu prasastinya disebut-sebut menjadi Budha. Dijelaskan ia menyadari bahwa jalan terpendek untuk mencapai kesempurnaan adalah menjadi biksu. Salah satu peninggalan Lo T’ai yang cukup tekenal adalah Traibhumi katha (Traipum Pa Ruang), berisi tentang kosmologi Budhisme. Dalam prasasti ini dijelaskan ajaran budha untuk bisa menahan diri dari perbuatan yang tidak terpuji serta ajaran untuk tidak melakukan balas dendam bahkan dianjurkan untuk memberi maaf dan ampunan bagi yang melakukan kesalahan. Ia juga dikenal tokoh yang mengadakan perbaikan kosmologi Budhisme berupa kalender Budha yang dimulai ketika Budha masih berada di Nirwana. Karena pengabdian keagamaannya Lo T’ai menyandang gelar Dharmaraja (Hall, 1988:157).
2. Kerajaan Ayut’ia
Setelah pendirian Ayut’ia tahun 1350 wilayah yang mengaku setia pada raja-rajanya jadi terkenal sebagai orang-orang Eropah sering menyebut kota itu sendiri ”kota Siam”. Kerajaan baru Ayut’ia adalah kerajaan kuat yang segera menghancurkan kekuasaan beliau. Ayut’ia berhasil menguasai Menam tengah dan selatan dan banyak daerah-daerah disemenanjung Melayu termasuk  ternassserim dan tavoy yaitu Burma sekarang dan berdaulat atas Sukhot’ai. Ku blai Khan dan pengganti-penggantinya telah mendorong T’ai untuk memereteli kekaisaran Khmer sesuai dengan politik fragmentasi Cina yang tradisional itu yang dijalankan kearah “orang-orang barbar diselatan”. Tetapi kelemahan kekuatan Mongol pertengahan abad XIVmemungkinkan terciptanya negara yang begitu kuat seperti Ayut”ia. Segera setelah Mongol digantikan oleh Ming, situasi berubah radikal. Raja-raja Siam rupanya sadar akan hal ini, karena itu mereka secara teratur mengirim utusan-utusan ke Nanking ibukota Ming, dan dengan bersusah payah menanamkan hubungan-hubungan persahabatan. Sebagai para diplomat T’ai tidak pernah dikalahkan. Pergeseran kekuatan pusat utama T’ai dilembah Menam Sukopati trt’ai jauh diutara ke Ayut’ia diselatan mempunyai konsekuensi membahayakan Kamboja, Angkor sekarang berada dalam posisi terjangkau oleh serangan. Telah terbukti kesimpulannya bahwa Ramadhipati tidak merebut Angkor tahun 1353, tetapi tentu tidakdiragukan bahwa segera setelah menaklukkan Kamboja.
Ramadhipati I memperlakukan sistem undang-undang pertama yang tercatat diThailand. Meliputi banyak macam adat lama T’ai dari zaman Nanchao. Perlahan-lahan disesuaikan dengan undang-undang Siam selam berabad-abad sampai pada pemerintahan Chulalomgkorn dan tidak seluruhnya diganti dengan hukum modern. Tahun 1371 Boromoraja memimpin serangan ke kerajaan disebelah utara dan berhasil merebut beberapa kota. Ini merupakan yang pertama dari rangkaian dari serangan-serangan berkala yang mencapai puncaknya tahun 1378 menyerahnya raja T’ammaraja II dari Sukhot’aidan penyerahan pada Ayut’ia disterik sebelah baratnya, Kamp’engp’et. Perluasan kekuasaan Ayut’ai begitu jauh kearah utara mengakibatkan keributan dengan Chengmai dan persis sebelum mangkatnya Bor omoraja suatu pertikaian mulai berlangsung dan berakhir setelah berabad-abad. Tahun berikut Bomomaraja I mangkat dan digantikan puteranya, seorang anak usia 15 tahun. Beliau segera diturunkan dari tahta dan dibunuh oleh bekas raja Rameseun yang merebut kekuasaan dan memerintah sampai tahun 1395. Beliau dipercaya bersalah dengan penaklukan kedua Siam dan Angkor, yang diperkirakan tahun 1394 dan yang menjadi seba berpindahnya ibukota Khmer ke Phnom penh. Apa yang sebenarnya terjadi adalah bahwa raja Chiengmai, salah memimpin pasukan kesana membantu Sukhot’ai yang menjalankan usaha lain demi mencapai kemerdekaannya.
Kurun waktu 1395-1408 kosong dalam sejarah Siam. Raja Raksasa, Ram Raja, putra Ramasuen, menduduki tahta tetapi tidak ada apa-apa tercatat teyang pertamntang pemerintahannya. Tahun 1408 beliau diturunkan melalui pemberontakan di istana dipimpin oleh Bomomaraja I, yang menggantikannya naik tahta sebagai Int’araja(1408-1424). Yang pertama diSukhot’ai, dimana orang-orang Siam campurtangan dan mendesak penyelesaiannya tahun 1410. Yang lain terjadi tahun berikutnya di Chengmai dan sebagai akibatnya mangkatnya Sen Muang Ma. Pasukan Siam dipimpin oleh raja T’ammaraja III, dari Sukhot’ai dikirim untuk mendudukan salah seseorang dari penuntut tahta itu. Sebelum maju langsung ke Chiengmai diserangnya dulu kota P’ayao, dulunya sebuah negara T’ai merdeka, baru kearah barat laut.
Ketika Int’araja mati tahun 1424, beliau meninggalkan tiga orang putra. Perjuangan merebut tahta segera mulai pecah antara dua saudara yang lebih tua. Tahun 1438 suatu langkah penting terjadi untuk mengkonsolidasikan kerajaan Siam itu. Boromaraja II mengangkat putra sulungnya, Ramesuen sebagai gubernur di P’itsanulok, disana menyatukan apa yang ditinggalkan kerajaan Sukhot’ai lama sebagai propinsi Siam. Segera setelah itu, tahun 1442, perang perebutan kekuasaan yang lain di Chiengmai membuka kesempatan bagi orang-orang Siam campur tangan. Pangeran Ramaseun, yang menggantikannya sebagai Boromo Trailokanat (1448-1488), biasanya disingkat dengan Trailok, telah meninggalkan jasa atas sejarah pemerintahan negeri itu. Rencananya bertujuan menciptakan sistem pemerintahan terpusat. Sampai pada zamannya pemerintahan propinsi yang bermacam-macam itu sangat sedikit yang berada dibawah pengawasan terpusat.
Pangeran ramesuen yang mengagantikannya sebagai boromo Trailorkanat (1448-1488), biasanya disingkat dengan trailok, telah meninggalkan jasa atas sejarah pemerintahan negeri itu. Rencananya bertujuan menciptakan sistem pemerintahan terpusat.sampai pada zaman pemerintahan propinsi yang bermacam-macam itu sanagat sedikit yang berada di bawah pengawasan pusat. Agar dapat mengawasinya pemerintah pusat disusun kembali atas dasar basis departemen sipil besar dan pemerintahan militer. Departemen – departemen sipil adalah kementrian urusan dalam negeri.
Pemerintah militer dibawah kalahom juga di bagi dalam departemen-departemen yang kepalanya setingkat menteri.ini masih berlaku sebagian besar dalam struktur pemerintahan pusat sampai abad XIX. Badan tertinggi menteri-menteri terdiri dari hlutdaw yang melakukan pengawasan gabungan, teorinya atass seluruh bidang pemerintahan sampai penghapusan kerajaan tahun 1886. Portugis
Tindakan lain pemerintahan trailok adalah peraturan tentang tinkatan sakdi na. sejak jaman dulu dalam sistem masyarakat T’ai setiap orang harus mempunyai sejumlah tanah yang berbeda-beda luasnya menurut kedudukannya. Pemerintahan trailok merupakan salah satu pemerintahan yang tidak putus-putusnya berperang melawan chiengmai.
Pendapat Krom tentang pemerintahan mudzafar shah, lebih terkenal sebagai raja kasim (1446-1459) menyebabkan orang eragukan kebenaran-kebenaran tulisan orang siam. Beliau menulis bahwa perluasan terbesar kekuasaan malaka terjadi dibawah pemerintahan raja ini, yang namanya dikaitkan dengan suksesnya memukul mundur siam. Winnstedt dalam History of Malaya tidak menyebutkan apa-apa tentang dugaan perbuatan malaka oleh siam.
Tome pires yang tinggal di malaka segera setelah portugis merebutnya tahun 1511. Dan dalam bukunya summa Oriental, memberikan gambaran tentang timur penting karena dapat dipercaya,bmenyebutkan persekutuan antara siam dan malaka dalam pemerintahan “moda farxa” ia mengatakan raja ini berhasil baik berperang melawan raja-raja Pahang,trengganau, dan patani dan juga melawan Negari-negeri Kampar dan Indragiri di Sumatra dan bahwa keberhasilannya justru karena persekutuan dengan jawa cina dan siam.
Beliau kemudian mengusahakan membuat chiengmai lemah dengan cara rahasia. Tahun 1467 beliau mengirimkan bhiksu Burma untuk menanamkan ketidakpuasan karena perbedaan pendapat di istana chiengmai. Dalam tahun berikutnya beliau mengulangi dengan mengirim utusan yang di pimpin oleh seorang brahmana tertuju pada sasaran yang sama. Banyak kesulitan sebenarnya di sebabkan oleh orang-orang yang dikirim ini, karena tujuan mereka mengarah pada terbunuhnya putera sulung raja dan seorang menteri yang dipercaya pada tugas yang salah. Tetapi tindakan brahmana itu menyebabkan kecurigaan, komplotan itu terbongkar dan kedua brahmana dan beliau di buang ke suangai dengan leher digantungi batu. Perang berkecamuk lagi dalam tahun 1494, dan berlangsung tanpa istirahat dan tanpa hasil selama seperempat abad berikutnya.  Tetapi tahun 1545, perselisihan perebutan kekuasaan di chiengmai membuka kesempatan bagi siam untuk campur tangan dan berhasil.  

BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
    Kerajaan Thai berbatasan dengan Laos dan Myanmar di sebelah utara, dengan Malaysia dan Teluk Siam di selatan, dengan Myanmar dan Laut Timur di barat dan dengan Laos dan Kamboja di timur.
    Kerajaan Bangsa T’ai dan kerajaan-kerajaan kecil lainnya seperti P’yao merupakan wilayah yang berada dalam kedaulatan Cina. Lambat laun negara-negara kecil tersebut ingin melepaskan diri dari kekuasaan Cina dan menjadi negara merdeka. Mereka melakukan migrasi dan penaklukan-penaklukan.
Kerajaan-kerajaan tertua yang ada di Muang Thai (Thailand) diantaranya:
1. Kerajaan Sukhot’ai
2. Kerajaan Ayut’ia

Daftar Pustaka
•    Thailand - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.htm
•    http://www.majalahsaksi.com/news/index.php?ID=12
•    http://faizn.blog.friendster.com/2007/01/dua-ratus-tahun-penjajahan-siam/
•    http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Kerajaan_Thai
•    Hall, D.G.E. 1988. Sejarah Asia Tenggara. Surabaya: Usaha Nasional

sejarah malaysia & singapura


MALAYSIA: SINGAPURA
(AWAL SAMPAI  MENJELANG KEDATANGAN INGGRIS)


Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Sejarah Asia Tenggara ,
 oleh :

1.    Novia Puji Hardianti        120210302007
2.    Refani Anindya Putri         120210302063
3.    Yaumil Qoriah            120210302074
4.    Amalia Sari Anindita        120210302026




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2013
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat, taufik, hidayah dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Sejarah Asia Tenggara I yang berjudul “Sejarah Malasya : Singapura Awal Sampai Menjelang Kedatangan Bangsa Barat” tepat waktu yang ditentukan.
Kami selaku penyusun makalah, menyampaikan banyak terima kasih kepada Bapak Drs. Sumarjono M.si selaku dosen pembimbing  Mata Kuliah Sejarah Asia Tenggara I, yang telah membimbing kami dalam penyusunan makalah ini.
Makalah ini kami susun guna menyelesaikan tugas kelompok mata kuliah  Sejarah Asia Tenggara 1. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat yang positif bagi kami selaku penyusun maupun bagi para pembaca. Khususnya warga masayarakat Fkip Sejarah dan semua warga Universita Jember.
Kami menyadari, makalah ini masih jauh dari kata sempurna baik dari segi sistematika penyusunan maupun isi. Oleh karena itu, kami memberi kesempatan kepada pembaca yang bersifat membangun guna perbaikan dan peningkatan kualitas penyusunan makalah yang akan datang.



Jember ,20 November 2013   




Penyusun                       


DAFTAR ISI
MALAYSIA: SINGAPURA    1
(AWAL SAMPAI  MENJELANG KEDATANGAN INGGRIS)    1
KATA PENGANTAR    2
BAB I    3
PENDAHULUAN    3
1.1 Latar Belakang    3
1.2 Rumusan Masalah    4
1.3 Tujuan dan Manfaat    4
BAB II    5
PEMBAHASAN    5
2.1 Letak Geografis Malaysia    5
2.2 Sejarah Berdirinya Malaysia    6
2.2.1 Prasejarah    6
2.2.2 Sejarah Kuno terbentuknya Malaysia    6
2.2.3 Posisi dan Letak Kerajaan Malaka    6
2.3 Perkembangan Islam dan Pengaruhnya Terhadap Kerajaan – Kerajaan di Semenanjung Malaya    7
2.4    Kemerosotan Kerajaan Malaka    12
2.5 Letak geografis Singapura    16
2.6 Sejarah Berdirinya Singapura    16
BAB III    20
PENUTUP    20
3.1 Kesimpulan    20
Daftar Pustaka    22


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Asia Tenggara adalah sebuah kawasan di benua Asia bagian tenggara. Kawasan ini mencakup Indochina dan Semenanjung Malaya serta kepulauan di sekitarnya. Asia Tenggara berbatasan dengan Republik Rakyat Cina di sebelah utara, Samudra Pasifik di timur, Samudra Hindia di selatan, dan Samudra Hindia, Teluk Benggala, dan anak benua India di barat.Asia Tenggara biasa dipilah dalam dua kelompok: Asia Tenggara Daratan (ATD) dan Asia Tenggara Maritim (ATM).
Nama untuk kawasan ini pertama kali dipakai pada abad ke-20. Sebelumnya Asia Tenggara dikenal dengan nama India Belakang (jika dibandingkan dengan anak benua India). Subkawasan Asia Tenggara terdiri dari sebelas negara, beberapa di antaranya berada di daratan utama (mainland), yang juga dikenal sebagai Asia Tenggara Daratan (Indocina) dan sebagian lagi seluruhnya merupakan kepulauan (Asia Tenggara Maritim), yang dikenal dengan istilah beragam, seperti Kepulauan Selatan (Nan Yang, Cina dan Vietnam), Kepulauan Melayu (Malay Archipelago menurut A.R. Wallace), Malayunesia (Logan), Indonesia (Logan dan Adolf Bastian), Hindia Timur (Oost-Indie, Belanda), Malaysia, Insulinde (oleh orang Hindia Belanda di awal abad ke-20), atau Nusantara (oleh masyarakat Indonesia). Agak menarik bahwa Semenanjung Malaya biasanya dimasukkan dalam wilayah kepulauan meskipun masih tersambung dengan benua Asia.
Geografi Asia Tenggara dapat dikategorikan menjadi dua bagian, daratan dan kepulauan. Negara-negara yang berada di daratan termasuk Myanmar, Kamboja, Laos, Thailand, dan Vietnam. Sedangkan negara-negara yang berada di kepulauan termasuk Brunei, Filipina, Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Banyak kerajaan kuno yang mengawali terbentuknya negara-negara di Asia tenggata termasuk awal terbentuknya Malaysia dan Singapura.
1.2 Rumusan Masalah

1.    Bagaimana letak geografis  Malaysia dan Singapura ?
2.    Bagaimana sejarah awal berdirinya Malaysia dan Singapura ?

1.3 Tujuan dan Manfaat

1.    Agar mahasiswa dapat mengetahui letak geografis Malaysia dan Singapura.
2.    Agar mahasiswa dapat mengetahui sejarah awal berdirinya Malaysia dan Singapura .
3.    Untuk menambah refrensi pengetahuan sejarah awal berdirinya negara-negara di Asia Tenggara khususnya Malaysia dan Singapura .
4.    Untuk memenuhi tugas mata kuliah Asia Tenggara 
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Letak Geografis Malaysia
Malaysia adalah sebuah negara federasi yang terdiri dari tiga belas negara bagian dan tiga wilayah persekutuan di Asia Tenggara dengan luas 329.847 km persegi. Ibukotanya adalah Kuala Lumpur, sedangkan Putrajaya menjadi pusat pemerintahan persekutuan. Jumlah penduduk negara ini melebihi 27 juta jiwa. Negara ini dipisahkan ke dalam dua kawasan Malaysia Barat dan Malaysia Timur oleh Kepulauan Natuna, wilayah Indonesia di Laut Cina Selatan. Malaysia berbatasan dengan Thailand, Indonesia, Singapura, Brunei, dan Filipina. Negara ini terletak di dekat khatulistiwa dan beriklim tropika. Kepala negara Malaysia adalah Yang di-Pertuan Agong dan pemerintahannya dikepalai oleh seorang Perdana Menteri. Model pemerintahan Malaysia mirip dengan sistem parlementer Westminster.
Malaysia sebagai negara persekutuan tidak pernah ada sampai tahun 1963. Sebelumnya, sekumpulan koloni didirikan oleh Britania Raya pada akhir abad ke-18, dan paro barat Malaysia modern terdiri dari beberapa kerajaan yang terpisah-pisah. Kumpulan wilayah jajahan itu dikenal sebagai Malaya Britania hingga pembubarannya pada 1946, ketika kumpulan itu disusun kembali sebagai Uni Malaya. Karena semakin meluasnya tentangan, kumpulan itu lagi-lagi disusun kembali sebagai Federasi Malaya pada tahun 1948 dan kemudian meraih kemerdekaan pada 31 Agustus 1957.


2.2 Sejarah Berdirinya Malaysia
2.2.1 Prasejarah
Sisa-sisa arkeologis ditemukan di Malaysia Barat, Sabah, dan Sarawak. Semang memiliki leluhur jauh di Semenanjung Malaya, merujuk pada pemukiman pertama dari Afrika, lebih dari 50.000 tahun lalu. Senoi muncul sebagai kelompok campuran, dengan hampir separo silsilah dari garis ibu moyang Semang dan separonya lagi Indocina. Ini bersesuaian dengan dugaan bahwa mereka mewakili keturunan penutur Austronesia kuno, kaum tani, yang membawa bahasa dan teknologi mereka ke bagian selatan semenanjung kira-kira 5.000 tahun lalu dan menyatu dengan penduduk asli. Manusia Proto Melayu lebih beraneka ragam, dan meskipun mereka menunjukkan beberapa kaitan dengan Asia Tenggara kepulauan, beberapa di antaranya juga memiliki leluhur di Indocina dari zaman Last Glacial Maximum, diikuti oleh penyebaran Holosen-dini melalui Semenanjung Malaya ke Asia Tenggara kepulauan.
2.2.2 Sejarah Kuno terbentuknya Malaysia
Semenanjung Malaya berkembang sebagai pusat perdagangan utama di Asia Tenggara, karena berkembangnya perdagangan antara Cina dan India dan negara lainnya melalui Selat Malaka yang ramai. Claudius Ptolemaeus menunjukkan Semenanjung Malaya pada peta dininya dengan label yang berarti "Golden Chersonese", Selat Malaka ditulis sebagai "Sinus Sabaricus". Dari pertengahan hingga akhir milenium pertama, sebagian besar semenanjung, begitupun Nusantara berada di bawah pengaruh Sriwijaya.

2.2.3 Posisi dan Letak Kerajaan Malaka
    Kerajaan Malaka terletak di Semenanjung Barat Malaya yang merupakan posisi strategis dalam perdagangan kuno masa itu sebab menghubungkan perdagangan antara dunia barat dengan dunia timur yang melalui Selat Malaka. Akibat proses perdagangan itu Malaka menjadi kota pelabuhan teramai abad 15. Selat Malaka merupakan lalu lintas perdagangan terpadat masa itu. Letak Pelabuhan Malaka memang sangat strategis dan sangat baik. Kapal dagang yang berlayar dari Laut selatan Cina bisa dibelokkan ke pelabuhan yang aman tenteram. Sebab Malaka memberikan jaminan keamanan kepada saudagar yang datang. Hal ini dipengaruhi pelayaran abad 15-16 masih tergantung pada angin laut. Sambil menunggu datangnya angin para pedagang mendapat kesempatan untuk membeli barang-barang yang datang dari Tiongkok, India, dan Indonesia terutama rempah-rempah dari Indonesia Timur.   
    Yang membangun pelabuhan Malaka ialah Parameswara seorang Raja pelarian dari Tumasik (Singapura), Raja Parameswara menyingkir ke Muar dan bersembunyi di  Malaka yang pada saat itu masih merupakan desa kecil di pantai Barat Semenanjung Malaya dan menjadi sarang perompak, lanun, dan nelayan. Alasan Parameswara menyingkir ke Malaka dikarenakan ketakutan akan serangan balasan Raja Pahang yang datang ke Tumasik dengan armadanya untuk membalaskan kematian saudaranya yang dibunuh Parameswara (Slamet Muljana : 141). Masa ini Islam telah memberikan pengaruhnya secara langsung bukti historisnya menurut berita dari Marco Polo tahun 1292 dalam perjalanannya pulang ke Cina mengujungi Sumatera. Ferlec pelabuhan pertama yang dikunjungi, Menurut Marco, daerah Perlak banyak dikunjungi oleh pedagang muslim sehingga mereka merubah keyakinan penduduk asli dari proses jalur perdagangan, pendidikan, perkawinan, dan tasawuh.   

2.3 Perkembangan Islam dan Pengaruhnya Terhadap Kerajaan – Kerajaan di Semenanjung Malaya

        Perkembangan Islam di Malaka bermula tahun  1403 seluruh Tiongkok dikuasai oleh Kaisar Yung-Lo dari  Dinasti Ming. Sejak Yung-Lo berkuasa, ia mulai menentramkan keadaan, memulihkan kesejahteraan rakyat dan hubungan antara Tiongkok dengan negara-negara asing. Kaisar Yung-Lo alias Ch’eng Tsu, berusaha memperbaiki hubungan dagang dan hubungan politik Luar Negeri. Maka diutuslah Cheng Ho alias Sam Po Bo diserahi pelaksanaan pemulihan hubungan ke Asia Tenggara dan Asia Barat. Utusan pertama dipimpin Laksamana Ying Ching yang singgah di Malaka, Parameswara menggunakan kesempatan yang datang mendadak itu. Dia menemui Yin Ching minta supaya diakui oleh kaisar Tiongkok sebagai penguasa pantai Malaka.
        Akibat pengakuan itu, ia akan memperoleh perlindungan dan bantuan dari Tiongkok, jika Malaka pada suatu saat diserang oleh tentara Siam. Parameswara memelihara hubungan sedekat mungkin dengan Cina tahun 1409, armada Tiongkok dibawah pimpinan disertai Tionghoa Islam sebagai juru bahasa bernama Ma Huan berkunjung ke Asia Tenggara. Dalam kunjungan ke Asia Tenggara itu Cheng Ho singgah di pelabuhan Malaka untuk menunjukkan kepada Siam bahwa Tiongkok bersahabat dengan Malaka. Cheng Ho menghadiahkan tanah genting Kra kepada Raja Parameswara untuk dijadikan istana. Akibat saling eratnya hubungan Malaka dengan Tiongkok tentara Siam tidak berani lagi masuk di Malaka.
        Setelah Parameswara memeluk agama Islam madzhab Syafi’i banyak rakyat Malaka yang ikut masuk Islam. Malaka menjadi Kesultanan Islam, negara Islam pertama di Malaysia dan Kota Malaka menjadi kota dagang Islam di Asia Tenggara. Perluasan Malaka berjalan dengan cepat, posisinya yang strategis lebih menguntungkan daripada Palembang atau Jambi untuk mengawasi pelayaran melalui selat Malaka. Dengan kata lain, Malaka menjadi pusat perdagangan sedang pelabuhan-pelabuhan Sumatera hanyalah tempat expor merica. Adapun Penjelasan Raja-Raja secara singkat yang pernah memerintah Malaka antara lain:
1.    Parameswara (Megat Iskandar Syah) 1402-1424
        Megat Iskandar Syah yang menurut Tome Pires masuk Islam usia 72 tahun meninggal tahun 1424. Masa pemerintahannya diwarnai dengan diakuinya Malaka sebagai negara yang bersahabat dengan Tiongkok. Dia memelihara hubungan dengan Tioongkok, tahun 1409 sebagai tindak lanjut dari persahabatan ini Kaisar Yung-Lo mengirim utusannya bernama Cheng-Ho untuk singgah di Malaka dan memberikan tanah genting Kra kepada Malaka. Selain itu perkembangan Islam aliran Syafi’i berkembang luas di Malaka sebagai akibat perkawinan Parameswara dengan Putri Pasai.  
2.    Sultan Muhammad Syah (Sri Maharaja) 1424-1444
        Pada tahun 1424, setelah meninggalnya Sultan Megat Iskandar Syah, putranya Sri Maharaja, telah diangkat sebagai pemerintah  Malaka. Pada tahun yang sama, Raja dan permaisurinya melakukan kunjungan pertama mereka ke Cina untuk tujuan memberitahu Kaisar Cina atas meninggalnya ayahnya dan juga pengangkatan beliau sebagai Sultan. Pada tahun 1433, Raja bersama permaisuri, putra-putri dan adikya bernama Radin Bala beserta rombongan raja sebanyak 228 orang berangkat ke Cina mengikuti angkatan laut Cheng Ho.
3.    Sri Parameswara Dewa Syah 1444-1446
        Pada pemerintahan Sri Parameswara Dewa Syah hanya memerintah selama 2 tahun akibat menghadapi tantangan golongan Tamil Islam dibawah pimpinan Tun Ali. Ia berhasil dibunuh oleh Raja Kassim yang dicalonkan sebagai Sultan Malaka oleh golongan Tamil Islam.
4.    Sultan Mudzaffar Syah (Raja Kassim) 1446-1459
        Masa pemerintahan Mudzaffar Syah timbul orangl-orang kuat di Malaka yang bernama Tun Perak. Setelah Tun Perak berhasil memukul mundur pasukan Siam di Muar Tun Perak diangkat menjadi pejabat politik pemerintahan.
5.    Sultan Mansur Syah 1459-1477
        Masa pemerintahan Mansur Syah, Tun Perak merencanakan penyerbuan ke Pahang. Pahang yang terletak disebelah utara Malaka menghadap ke pantai timur dijadikan perisai dalam menghadapi serangan tentara Siam. Ditinjau dari Segi ekonomi, Pahang adalah daerah kaya raya terutama timah dan emas. Hal ini sangat dibutuhkan kesultanan Malaka untuk pembiayaan tentara untuk tujuan politik ekspansi. Tun Perak lebih banyak memusatkan perhatian pada penguasaan Selat Malaka sebagai jalan lalu lintas perdagangan daripada penyatuan Malaya. Oleh karena itu, perhatiannya ditumpahkan pada penundukan kota-kota pelabuhan di sepanjang Selat Malaka. Jika kota pelabuhan ini berhasil ditaklukkan Malaka akan menguasai sepenuhnya Selat Malaka dengan lalu lintas perdagangannya.  
6.    Sultan Alauddin Riayat Syah 1477-1488
    Masa Alauddin Riayat Syah, sepeninggal Tun Perak tahun 1498 yakni Tan Putih dan Tan Mutahir. Lalu Tun Putih sebagai bendahara berhasil menundukkan, Manjong, Beruas, dan Kelantan di bawah kekuasaan Malaka. Kemudian sepeninggal Tun Putih, bendahara Mutahir menundukkan Patani dan Kedah. Masa pemerintahan Sultan Aluddin Riayat Syah, Malaya dipersatukan dibawah pemerintahan Malaka dan Selat Malaka dikuasai sepenuhnya. Zaman ini merupakan puncak kegemilangan Malaka.
7.    Sultan Mahmud Syah  1488-1528
    Kota Malaka semakin berkembang dengan kedatangan pedagang-pedagang asing setelah pengangkatan Tun Mutahir. Ini adalah karena kebijaksanaan dan kelancaran administrasi Bendahara Seri Maharaja dan kemampuannya menarik pedagang-pedagang asing untuk datang ke Melaka.
        Di sekitar tahun 1500, Malaka masih berada di puncak kekuasaan dan kegemilangannya. Kota Melaka menjadi pusat kekaisaran Melayu yang unggul dan juga pusat perdagangan untuk kain dari India, tembikar dan sutera dari Cina dan rempah ratus dari kepulauan Melayu, serta pusat aktivitas pengembangan Islam di kepulauan Melayu.
        Pada tanggal 11 September 1509, saat pemerintahan Sultan Mahmud dan Tun Mutahir sebagai Bendahara, satu angkatan Portugis yang terdiri dari lima buah kapal besar yang dipimpin oleh Diego Lopez de Sequeira telah mendarat di pelabuhanMalaka. Kedatangan orang-orang Portugis ini membawa pertanda buruk karena permulaan dimulainya keruntuhan dan kejatuhan Kesultanan Melayu Melaka.

        Politik ekspansi Malaka membawa juga akibat persebaran agama Islam madzhab Syafi’i di sepanjang pantai barat Malaya, pantai Timur Malaya serta pedalaman semenanjung Melayu. Raja-Raja di Pantai Timur Sumatera telah tunduk kepada Malaka mendapat hadiah putri-putri Sultan Malaka. Pemberian hadiah itu pula dalam rangka politik ekspansi keagamaan.
    Proses Islamisasi yang berjalan baik dan terbentuknya komunitas-komunitas Islam melahirkan pusat-pusat kekuasaan Islam. Kerajaan Islam pertama di Semenanjung Malaka adalah Kerajaan Islam Kelantan (pertengahan abad ke-12). Namun sejarah Kerajaan Kelantan belum terkuak sampai sekarang dikarenakan bukti-bukti yang kurang mendukung. 
    Selain Kelantan terdapat Kerajaan Terengganu yang ditemukan bukti pada batu bersurat yang ditemukan di Kuala Barang (Terengganu), ditemukan tulisan bahasa Melayu berhuruf Arab (huruf Jawi) tentang hukum syarak yang wajib dipatuhi oleh rakyat di Kerajaan Islam Terengganu pada abad ke-8 H (abad ke-14 M) antara lain menyatakan: “Wajib di atas muslimin patuh kepada undang-undang Tuhan karena ia adalah perintah-perintah Allah yang berkuasa lagi mulia dan mengeluarkan hukum-hukum seperti ini wajib diatas sekalian raja-raja Muslimin untuk kebaikan negeri-negeri mereka.” Terengganu pada abad ke-14 menjadi pusat penyebaran Islam di pantai timur Semenanjung Malaka dan sampai sekarang disebut “Darul Iman” (Van Hoeve : 2003).
    Persebaran agama Islam melalui para pedagang kebanyakan dilakukan oleh pedagang islam dari India, Persia, dan Kambayat yang memeluk agama islam Syafi’i. Sebagai Kerajaan yang menguasai Malaya, Kerajaan Malaka menjadi pusat pertemuan pelayaran dari tiga jurusan, yakni dari Tiongkok, Indonesia, dan India (Slamet Muljana : hal. 153).


 
   
2.4    Kemerosotan Kerajaan Malaka
    Proses kejatuhan Malaka ialah masuknya bangsa Portugis di Selat Malaka, pada tahun 1509 kapal Portugis dibawah pimpinan Don Diego Lopez da Squeira berlabuh di Malaka. Kota Malaka adalah kota dagang internasional, segala kekuatan Malaka dipusatkan di kota pelabuhan Malaka. Kemakmuran negara Malaka sedikit demi sedikit melemahkan semangat perjuangan. Karena kehilangan sasaran di luar Malaka, kekuatan-kekuatan Malaka terpecah belah dalam golongan dan saling berhantam. Semangat perjuangan yang kehilangan sasaran akhirnya menghancurkan kekuatan sendiri yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi bahaya dari luar. Semangat perang telah melempem diganti dengan semangat dagang. Latihan perang telah berganti dengan latihan mencari uang.
    Seperti yang telah disinggung diatas, Malaka menjadi pusatpermusuhan antargolongan. Tiap-tiap golongan mengajukan calonnya dan mendesak supaya calonnya diterima. Permusuhan antar golongan pasti melemahkan pemerintahan. Para bangsawan terpecah belah dan membentuk kelompoknya masin-masing yang harus menyokong gerakannya untuk meruntuhkan lawan-lawannya. Untuk mengumpulkan orang-orang yang terpecah belah Malaka membutuhkan pemimpin yang kuat. Tetapi pada waktu itu Malaka tidak ada orang kuat yang sanggup memadukan tenaga-tenaga itu. Dari faktor Intern terdapat faktor Ekstern antara lain;
 2.3.1    Serangan dari Jawa
    Sejak tahun 1509 Yat Sun alias Adipati Unus putra sulung Jin Bun alias Raden Patah telah bersiap menyerang Malaka dan mengincar pelabuhan Malaka. Di kota Malaka banyak menetap pedagang-pedagang Jawa mereka dihubungi untuk dijadikan mata-mata. Adipati Unus memimpin langsung armada Demak tahun 1512. Armada yang sudah datang itu dihujani peluru dari benteng-benteng portugis, serangan ini gagal.

2.3.2    Perebutan Pengaruh Perdagangan di Selat Malaka
    Letak Malaka memang sangat menguntungkan bagi lalu lintas dagang mealaui Selat sebagai satu-satunya jalan yang ditempuh abad 14 dan abad ke 15. Dengan sendirinya Malaka menjadi kota dagang yang sangat ramai menjadi pusat pertemuan para pedagang dari tiga jurusan. Akibatnya gangguan dari luar yang bercita-cita menguasai Malaka semakin banyak, ditambah gejolak yang terjadi di Kerajaan Malaka akibat mulai memudarnya semanagat menaklukkan daerah lain dengan kata lain politik ekspansi masa Tun Perak telah hilang dikarenakan kurangnya kaderisasi pemimpin sepeninggal Tun Perak.
     
 Sebelum kerajaan Malaka ada beberapa Kerajaan Melayu yang paling awal tercatat dalam sejarah tumbuh dari kota-pelabuhan tepi pantai yang dibuat pada abad 10. Di dalamnya termasuk Langkasuka di Kedah, dan juga Beruas dan Gangga Negara di Perak dan Pan Pan di Kelantan.
Pada 1511, Melaka ditaklukkan oleh Portugal, yang mendirikan sebuah koloni di sana; maka berakhirlah Kesultanan Melaka. Tetapi, Sultan terakhir melarikan diri ke Kampar, Riau, Sumatera dan meninggal di sana. Putera-putera Sultan Melaka terakhir mendirikan dua kesultanan di tempat lain di semenanjung & mdash; Kesultanan Perak di utara, dan Kesultanan Johor (mulanya kelanjutan kesultanan Melaka kuno) di selatan. Setelah jatuhnya Melaka, tiga negara berjuang menguasai Selat Malaka: Portugis (di Melaka), Kesultanan Johor, dan Kesultanan Aceh. Konflik ini berlangsung sampai tahun 1641, ketika Belanda (bersekutu dengan Kesultanan Johor) untuk merebut Melaka.
Kerajaan ini merupakan kelanjutan dari Kesultanan Malaka tua, tapi sekarang dikenal dengan nama Kesultanan Johor, yang masih ada sampai sekarang. Setelah jatuhnya Melaka, tiga negara berebut untuk mengambil kontrol Selat Malaka: Portugis (di Malaka), Kesultanan Johor, dan Kesultanan Aceh; dan peperangan berakhir pada 1641, ketika Belanda (bersekutu dengan Kesultanan Johor) merebut Malaka.
2.2.3 Kerajaan-Kerajan Melayu
A.    Langkasuka
Langkasuka atau juga dikenali sebagai Lang-ya-shiu, Lang-chia-shu (China), Langasyuka (Arab) dan Ilangasoka (inkripsi Tangore). Berdasarkan catatan pelawat-pelawat China yang mengadakan hubungan diplomatik dengan negeri-negeri Asia Tenggara pada abad ke-2 Masehi, “Lang-ya-shiu” atau Langkasuka (Paul Wheatley 1961, 387-412) sudah berdiri. Berpedoman catatan tersebut ahli-ahli sejarah Eropah percaya bahawa negeri Langkasuka yang terletak di pantai timur Semenanjung Tanah Melayu antara Senggora (Songkhla) dan Kelantan itu adalah lokasi asal negeri Patani. Langkasuka ialah sebuah kerajaan Hindu Melayu silam yang terletak di Semenanjung Tanah Melayu. Kerajaan ini bersama-sama dengan Kerajaan Kedah Tua bisa dikatakan  merupakan kerajaan yang paling awal di Tanah Melayu. Mengikut salah satu sumber, kerajaan ini didirikan  pada kurun ke-2 Masehi. Legenda orang Melayu mengatakan  bahawa Langkasuka berdiri di Kedah, dan kemudian berpindah ke Pattani. Nama Langkasuka juga ada disebut dalam tulisan-tulisan Melayu dan Jawa, sementara tulisan-tulisan dari China pernah menyebut sebuah negeri iaitu Lang-ya-hsiu atau Lang-chia-shu. Pada tahun 515 M Raja Bhagadatta menjalinkan hubungan dengan China . Pada kurun ke-12, Langkasuka merupakan negeri naungan Kerajaan Srivijaya .
B.    Gangga Negara dan Beruas
Gangga Negara dipercayai merupakan kerajaan Melayu Hindu Lama yang  disebut dalam Sejarah Melayu yang kini menaungi Beruas, Dinding dan Manjung yang pada masa kini terletak di negeri Perak, Malaysia serta Raja Gangga Shah Johan sebagai salah seorang rajanya. Para peneliti mempercayai bahawa kerajaan ini berpusat di Beruas dan runtuh selepas serangan oleh Raja Rajendra Chola I dari Coromandel, India Selatan di antara tahun 1025 dan 1026.
Kerajaan Gangga Negara meliputi Beruas dan Dinding/ Manjung . Artefak arca-arca Buddha abad ke-5 dan ke-6 Masehi yang dijumpai di Beruas menunjukkan kewujudan kerajaan Gangga Negara ini. Kerajaan Gangga Negara ini berpusat di Beruas.
Pendiri Kerajaan Gangga Negara ialah Raja Ganjil Sarjuna dari Kedah. Menurut kajian lain menyatakan bahawa Kerajaan Gangga Negara berdiri tidak lewat pada abad ke-2 Masehi. Kerajaan Gangga Negara ini dipercayai terletak di daerah Dinding (Manjong) di kawasan Selatan Gunung Bubu (1657 meter ) arah timur Bukit Segari di tepi Sungai Dendang. Pendapat ini juga menyebut kemungkinan pusat Kerajaan Gangga Negara berubah-ubah.
Dengan menggunakan sumber artefak-artefak purba dan kerajaan ini dipercayai pernah berpusat di Pengkalan ( Ipoh ), Lembah Kinta, Tanjung Rambutan, Bidor dan Sungai Siput.
C.    Pan-pan
Pan Pan ialah sebuah kerajaan Hindu kecil yang dipercayai wujud pada kurun ketiga hingga ketujuh masihi dan terletak di suatu kawasan di Kelantan atau Terengganu, Malaysia. Tidak banyak yang diketahui tentang kerajaan ini. Adalah juga dipercayai bahawa kerajaan ini ditakluk oleh empayar yang lebih besar yaitu Sriwijaya.




2.5 Letak geografis Singapura
Singapura nama resminya Republik Singapura, adalah sebuah negara pulau di lepas ujung selatan Semenanjung Malaya, 137 kilometer (85 mil) di utara khatulistiwa di Asia Tenggara. Negara ini terpisah dari Malaysia oleh Selat Johor di utara, dan dari Kepulauan Riau, Indonesia oleh Selat Singapura di selatan. Singapura adalah pusat keuangan terdepan keempat di dunia[16] dan sebuah kota dunia kosmopolitan yang memainkan peran penting dalam perdagangan dan keuangan internasional. Pelabuhan Singapura adalah satu dari lima pelabuhan tersibuk di dunia.
Singapura terdiri dari 63 pulau, termasuk daratan Singapura. Pulau utama sering disebut Pulau Singapura tetapi secara resmi disebut Pulau Ujong (Melayu: berarti pulau di ujung daratan (semenanjung)). Terdapat dua jembatan buatan menuju Johor, Malaysia: Johor–Singapore Causeway di utara, dan Tuas Second Link di barat. Pulau Jurong, Pulau Tekong, Pulau Ubin dan Pulau Sentosa adalah yang terbesar dari beberapa pulau kecil di Singapura. Titik alami tertinggi adalah Bukit Timah Hill dengan tinggi 166 m (545 kaki).
Singapura memiliki banyak proyek reklamasi tanah dengan tanah diperoleh dari bukit, dasar laut, dan negara tetangga. Hasilnya, daratan Singapura meluas dari 581,5 km² (224.5 mil²) pada 1960-an menjadi 704 km² (271.8 mil²) pada hari ini, dan akan meluas lagi hingga 100 km² (38.6 mil²) pada 2030. Proyek ini kadang mengharuskan beberapa pulau kecil digabungkan melalui reklamasi tanah untuk membentuk pulau-pulau besar dan berguna, contohnya Pulau Jurong.
2.6 Sejarah Berdirinya Singapura
 Pada awalnya Singapura di sebut Pu- Lo – Chung atau pulau paling ujung .Pada masa silam sekitar abad ke 14, pulau Singapura dan Malaya merupakan sebagian dari kerajaan Sriwijaya dan dikenal sebagai Temasek "Kota Laut".Kerajaan Sriwijaya pusatnya di Jambi dan nantinya di tanah yang dihuni masyarakat Minangkabau. Meskipun demikian, pada awal 1400-an pusat negeri Melayu sudah sepenuhnya bergeser ke Malaka. Menurut Sejarah Melayu, selepas kejatuhan Empayar Sriwijaya di Palembang pada abad ke-14, keluarga diraja Sriwijaya yang terselamat telah melarikan diri ke pulau-pulau sekitarnya yang masih setia kepada Sriwijaya.
Pada tahun 1324, seorang putera Sriwijaya bernama Sang Nila Utama menawan Temasek dan membunuh gabenur yang dilantik kerajaan Ayuthaya, Temagi. Baginda yang mengasaskan kerajaan Singapura lama. Baginda terus memerintah selama 48 tahun dan kekuasaannya diiktiraf oleh satu utusan dari Maharaja China pada tahun 1366. Baginda secara rasmi bergelar Sang Utama Parameswara Batara Sri Tri Buana, Batara Sri Tri Buana bermaksud "Yang Dipertuan kepada tiga dunia" melambangkan kekuasaannya ke atas Palembang, Bintan dan Temasek. Baginda mangkat pada tahun 1372 dan digantikan oleh anaknya, Paduka Sri Pekerma Wira Diraja (1372 – 1386) dan cucunya, Paduka Seri Rana Wira Kerma (1386 - 1399).
Pada tahun 1399, cicit Sang Nila Utama, Dharmaraja menaiki takhta kerajaan Singapura dengan gelaran Paduka Sri Maharaja Parameswara. Bagaimanapun, pada tahun 1401, baginda telah melarikan diri dari Singapura selepas serangan tentera Majapahit yang berkomplot dengan Bendahara yang belot, Sang Rajuna Tapa. Awalnya Singapura/Tumasik adalah Pos Luar dari Kerajaan Besar Sriwjaya. Saat itu Sriwijaya memiliki wilayah kekuasaan hingga Semenanjung Malaya(Malaysia), Kamboja, Thailand, Filipina dan Vietnam. Tidak mengherankan bila Sriwijaya dan Majapahit menjadi referensi Nusantara oleh para pejuang pra kemerdekaan.
Di abad XIV, runtuhnya Sriwijaya, Tumasik dibawah kekuasaan Majapahit yang ditaklukkan pada tahun 1401. Dengan menguasai Tumasik, sebagaimana Sriwijaya, Majapahit mampu mendominasi perdagangan internasional di perairan Melaka. Di abad berikutnya, dengan runtuhnya Majapahit, Tumasik menjadi Negara bagian Kerajaan Ayuttaya (Siam/Thailand). Namun juga karena kemunduran dari kerajaan Siam tersebut, di abad XIV, Tumasik menjadi bagian dari Kesultanan Malaka . Kesultanan Malaka merupakan “kelanjutan” dari Sriwijaya. Pendirinya adalah Parameswara.
Di tahun 1511, Portugis mulai menyerang Kesultanan Malaka. Ini adalah awal dari keruntuhan kesultanan tersebut. Di tahun 1511, kesultanan Melaka runtuh dan diteruskan oleh Kesultanan Johor. Pada 16 September 1963, Inggris setuju untuk menyerahkan Snagpura ke Malaysia (Inggris memerderkakan Malaysia, 31 Agustus 1957) untuk mendirikan Negara Federasi Malaysia . Karena Singapura dan Malaysia bekas jajahan Inggris. Dan karena ada hal lain yang menyebabkan Singapura memisahkan diri dari Persekutuan/Kerajaan Malaysia pimpinan Tunku Abdul Rahman.
9 Agustus 1965, Singapura resmi menjadi Negara yang berdiri sendiri terlepas dari Negara manapun.
Silsilah Raja yang pernah berkuasa di Tumasik :
1.    Sang nila utama ( Sri tri buana)
Dalam Sulalatus Salatin, Sang Nila Utama disebutkan sebagai putra pasangan Sang Sapurba dengan Wan Sundaria (anak dari Demang Lebar Daun, penguasa Palembang). Ia menikah dengan Wan Sri Bini, dan awal menjadi raja di Bintan sebelum pindah ke Singapura.
2.    Paduka Sri Pikrama Wira
Putra tertua dari Sang Nila Utama dan Raja kedua dari Singapura. Ia dikenal sebagai Raja Kecil Besar sebelum ia naik tahta dan menikah dengan putri India yang bernama Nila Panjadi. Ia memerintah dari tahun 1347 hingga tahun 1362.
Pemerintahannya ditandai dengan adanya upaya pertama oleh Siam untuk menundukkan kerajaan pulau ini. Seperti dicatat oleh Wang Dayuan pada tahun 1349, armada siam terdiri dari 70 jung datang ke kerajaan pulau ini.
3.    Sri Rana Wira Kerma
adalah putra tertua dari Paduka Seri Wikrama Wira dengan istrinya Nila Panjadi. Ia merupakan Raja Singapura ketiga. Ia dikenal sebagai Raja Muda sebelum naik tahta dan menikah dengan putri dari Bendahara Tun Perpatih Muka Berjajar. Ia memerintah dari tahun 1362 hingga tahun 1375.
4.    Paduka Sri Maharaja
adalah pura tertua dari Paduka Seri Rana Wikrama dan Raja keempat dari Singapura. Ia juga dikenal sebagai Damia Raja sebelum naik tahta. Menurut Sejarah Melayu, selama masa pemerintahan Paduka Sri Maharaja ditandai dengan terjadinya peristiwa Todak yang melanda seluruh pantai Singapura. Seorang pemuda, Hang Nadim, memikirkan solusi cerdik untuk menghalau todak. Raja awalnya berterima kasih, tetapi merasa semakin terancam oleh kecerdasan anak itu, dan memerintahkan agar anak itu dieksekusi. Pada 1389, Paduka Sri Maharaja digantikan oleh putranya, Iskandar Shah.
5.    Parameswara
Merupakan raja yang memerintah terakhir di Kerajaan Tumasik.
Periode pemerintahan raja-raja tersebut di perkirakan berakhir pada abad ke 14. Dan Singapura sempat mengalami pengruh perkembangan islam.Pada masa itu wilayah kekuasaan kerajaan Tumasik meliputi seluruh wilayah Singapura dan pulau kecil yang berada disekitarnya .


BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Malaysia adalah sebuah negara federasi yang terdiri dari tiga belas negara bagian dan tiga wilayah persekutuan di Asia Tenggara dengan luas 329.847 km persegi. Ibukotanya adalah Kuala Lumpur, sedangkan Putrajaya menjadi pusat pemerintahan persekutuan. Jumlah penduduk negara ini melebihi 27 juta jiwa. Negara ini dipisahkan ke dalam dua kawasan Malaysia Barat dan Malaysia Timur oleh Kepulauan Natuna, wilayah Indonesia di Laut Cina Selatan. Malaysia berbatasan dengan Thailand, Indonesia, Singapura, Brunei, dan Filipina. Negara ini terletak di dekat khatulistiwa dan beriklim tropika. Kepala negara Malaysia adalah Yang di-Pertuan Agong dan pemerintahannya dikepalai oleh seorang Perdana Menteri. Model pemerintahan Malaysia mirip dengan sistem parlementer Westminster.
Sisa-sisa arkeologis ditemukan di Malaysia Barat, Sabah, dan Sarawak. Semang memiliki leluhur jauh di Semenanjung Malaya, merujuk pada pemukiman pertama dari Afrika, lebih dari 50.000 tahun lalu. Senoi muncul sebagai kelompok campuran, dengan hampir separo silsilah dari garis ibu moyang Semang dan separonya lagi Indocina
Semenanjung Malaya berkembang sebagai pusat perdagangan utama di Asia Tenggara, karena berkembangnya perdagangan antara Cina dan India dan negara lainnya melalui Selat Malaka yang ramai. Claudius Ptolemaeus menunjukkan Semenanjung Malaya pada peta dininya dengan label yang berarti "Golden Chersonese", Selat Malaka ditulis sebagai "Sinus Sabaricus". Dari pertengahan hingga akhir milenium pertama, sebagian besar semenanjung, begitupun Nusantara berada di bawah pengaruh Sriwijaya. Di abad XIV, runtuhnya Sriwijaya, Tumasik dibawah kekuasaan Majapahit yang ditaklukkan pada tahun 1401. Dengan menguasai Tumasik, sebagaimana Sriwijaya, Majapahit mampu mendominasi perdagangan internasional di perairan Melaka. Di abad berikutnya, dengan runtuhnya Majapahit, Tumasik menjadi Negara bagian Kerajaan Ayuttaya (Siam/Thailand). Namun juga karena kemunduran dari kerajaan Siam tersebut, di abad XIV, Tumasik menjadi bagian dari Kesultanan Malaka . Kesultanan Malaka merupakan “kelanjutan” dari Sriwijaya. Pendirinya adalah Parameswara.Kerajaan Melayu yang paling awal tercatat dalam sejarah tumbuh dari kota-pelabuhan tepi pantai yang dibuat pada abad 10. Di dalamnya termasuk Langkasuka di Kedah, dan juga Beruas dan Gangga Negara di Perak dan Pan Pan di Kelantan.
Di abad XIV, runtuhnya Sriwijaya, Tumasik dibawah kekuasaan Majapahit yang ditaklukkan pada tahun 1401. Dengan menguasai Tumasik, sebagaimana Sriwijaya, Majapahit mampu mendominasi perdagangan internasional di perairan Melaka. Di abad berikutnya, dengan runtuhnya Majapahit, Tumasik menjadi Negara bagian Kerajaan Ayuttaya (Siam/Thailand). Namun juga karena kemunduran dari kerajaan Siam tersebut, di abad XIV, Tumasik menjadi bagian dari Kesultanan Malaka . Kesultanan Malaka merupakan “kelanjutan” dari Sriwijaya. Pendirinya adalah Parameswara.
Di tahun 1511, Portugis mulai menyerang Kesultanan Malaka. Ini adalah awal dari keruntuhan kesultanan tersebut. Di tahun 1511, kesultanan Melaka runtuh dan diteruskan oleh Kesultanan Johor. Pada 16 September 1963, Inggris setuju untuk menyerahkan Snagpura ke Malaysia (Inggris memerderkakan Malaysia, 31 Agustus 1957) untuk mendirikan Negara Federasi Malaysia . Karena Singapura dan Malaysia bekas jajahan Inggris. Dan karena ada hal lain yang menyebabkan Singapura memisahkan diri dari Persekutuan/Kerajaan Malaysia pimpinan Tunku Abdul Rahman.
Daftar Pustaka

M.G Ricklefs dkk. 2013. Sejarah Asia Tenggara dari masa Prasejarah sampai Kontemporer. Jakarta: Komunitas Bambu.
Hall, D.G.E. Sejarah Asia Tenggara. Surabaya: Usaha Nasional
    Muljana, Slamet., Prof., dr. 2005. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara. Yogyakarta : LKiS.
    Hoeve, Van. 2003. Ensiklopedi Islam. Jakarta : PT Ichtiar Baru.
Anomin. 11 Maret 2013. Malaysia.
http://mapbms.wikipedia.org/wiki/Malaysia Diakses 1 November 2013. 
Anonim. 23 September 2013. Kerajaan Dharmasraya.
http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Malayu. Diakses 1 November 2013.